Bersaing di Era Digital, Hampir Seluruh Ritel Beralih ke Toko Online

Koran SINDO ยท Rabu, 30 Januari 2019 - 10:51:00 WIB
Bersaing di Era Digital, Hampir Seluruh Ritel Beralih ke Toko Online
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

JAKARTA, iNews.id - Sekitar 95 persen anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) telah bertransformasi atau beralih ke sistem dalam jaringan (daring). Perubahan ini untuk mendukung bisnis mereka di era digital.

”Ritel di Indonesia saat ini sudah mentransformasikan bis nisnya tidak hanya ke toko fisik, tapi juga ke online store. Anggota kami sekitar 600 anggota dengan 40.000 toko fisik itu sudah 95 persen mentransformasikan bisnisnya ke online,” kata Ketua Aprindo Roy Mandey dalam jumpa pers Konferensi Future Commerce Indonesia 2019 di Jakarta, kemarin.

Sekitar 5 persen sisanya, kata Roy, merupakan pemain lokal yang tumbuh dan berkembang dengan kondisi toko fisik dan masih enggan bertransformasi karena optimistis dengan kondisi tersebut.

”Selalu kami yakinkan mereka untuk tidak hanya punya toko offline, tapi juga punya online. Toko fisik juga masih perlu karena tetap saja ada yang butuh melihat secara fisik,” ujarnya.

Menurut Roy, masuknya ritel offline ke sistem online, baik melalui e-commerce atau marketplace disebabkan tingginya permintaan konsumen. ”Tidak hanya (permintaan) milenial, tapi juga oleh para baby boomers (generasi yang lahir dengan rentang tahun lahir 1946–1964),” tuturnya.

Roy menyebut, pengusaha saat ini tidak mungkin bisa menolak digitalisasi. Pasalnya, selain harus mengikuti tren yang ada, digitalisasi dinilai bisa mendongkrak pertumbuhan atau pencapaian target omzet ritel.

”Digitalisasi adalah keniscayaan, maka kita harus absorb (serap). Kami harap peran digitalisasi semakin baik. Artinya, jadi punya aturan, bukan semakin tak punya aturan,” katanya.

Pengamat Ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai, bisnis ritel memang sudah seharusnya melakukan inovasi dan antisipasi dengan tren yang berkembang. Menurut dia, jika pengusaha tidak mampu mengantisipasi perubahan gaya hidup, maka bisnisnya akan mati. Apalagi 4 persen angkatan kerja atau penduduk usia produktif merupakan generasi milenial yang sudah fasih digital.

Editor : Ranto Rajagukguk

Halaman : 1 2