BI Prediksi Laju Ekonomi Global Mulai Melambat Tahun Depan
JAKARTA, iNews.id - Bank Indonesia (BI) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global mulai tahun depan.
Pada 2018, ekonomi global diprediksi masih tumbuh 3,9 persen. Pada tahun 2019, melambat jadi 3,7 persen dan tahun berikutnya menjadi 3,6 persen.
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, ekonomi global tahun ini relatif lebih tinggi karena ditopang pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS). Pada 2018, ekonomi AS diproyeksikan tumbuh 2,9 persen, lebih tinggi daripada tahun 2017 sebesar 2,2 persen.
Namun, ekonomi AS akan melambat pada tahun depan. Penyebabnya, bank sentral AS, The Federal Reserve (Fed) terus menaikkan suku bunga secara bertahap. Pada tahun 2019, ekonomi AS diprediksi melambat jadi 2,5 persen.
Moody's Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI 2019 Jadi 4,8 Persen
"Pertumbuhan ekonomi (global) berjalannya mulai agak lambat tahun 2019. Tapi 3,7 persen ini bukan angka yang jelek ya. Tahun 2018 ekonomi AS lebih tinggi dari perkiraan awal tahun," ujarnya di Graha CIMB Niaga, Jakarta, Jumat (16/11/2018).
Semntara itu, China yang merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia setelah AS juga akan melambat. Ekonomi negara tersebut diprediksi tumbuh 6,3 persen pada tahun depan, setelah sebelumnya tumbuh 6,6 persen pada 2018 dan 6,9 persen pada 2017.
Selain itu, ekonomi Eropa juga mulai melambat. Pada 2019 diprediksi hanya tumbuh 1,8 persen setelah tumbuh 2 persen pada 2018 dan 2,5 persen pada 2017. "Jadi Eropa pun mulai melambat. Walaupun Eropa suku bunganya belum naik dan belum dilakukan pengetatan," kata dia.
Bahkan Jepang yang terus berupaya membangkitkan ekonominya hanya akan tumbuh di kisaran 1 persen dari 1,1 persen di 2018 dan 1,8 persen di 2017. "Jadi semua melambat," ujar dia.
Meski melambat, Mirza menilai, The Fed akan tetap menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali pada tahun depan. Dengan demikian, Fed Fund Rate (FFR) akan menjadi 3,25 persen. Prediksi kenaikan FFR sejauh ini belum diantisipasi pasar.
"Tahun depan The Fed bilang tiga kali jadi 3,25 persen. Tapi market tidak percaya, market bilangnya ah paling cuma naik dua atau sekali," ucapnya.
BI, kata dia, akan mengambil posisi konservatif dalam menghadapi situasi saat ini, termasuk mengantisipasi adanya kenaikan FFR sebanyak tiga kali pada 2019.
Editor: Rahmat Fiansyah