Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan 4,75 Persen di Februari 2026
Advertisement . Scroll to see content

Capai Pertumbuhan Ekonomi, Dunia Cari Titik Keseimbangan Baru

Jumat, 10 Maret 2023 - 20:38:00 WIB
Capai Pertumbuhan Ekonomi, Dunia Cari Titik Keseimbangan Baru
Acara Bincang Ide bertajuk After Jokowinomics: Kemana Indonesia Akan Melangkah di Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (10/3/2023). (Foto: dok iNews)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Dunia sedang mencari titik keseimbangan baru (ekuilibirium) untuk pertumbuhan ekonomi. Hal itu, seiring pemulihan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19 dan situasi geopolitik yang turut mengancam kondisi ekonomi.

Pernyataan itu, disampaikan peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Izzudin Al Farras Adha, dalam acara Bincang Ide bertajuk After Jokowinomics: Kemana Indonesia Akan Melangkah di Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (10/3/2023).

"Titik keseimbangannya selama ini Amerika mendominasi tapi diganggu oleh China, kemudian Uni Eropa terus ekspansi Nato ke Ukraina, tapi ada Rusia yang menghadang dengan perangnya, berbagai dinamika lainnya itu yang membuat berbagai ketidakmenentuan di dunia, termasuk ekonomi dunia saat ini," kata Farras

Oleh karena itu, Farras menilai, pertumbuhan ekonomi dunia terutama di negara-negara maju, pada tahun 2023 proyeksinya direvisi terus menurun.

"Tahun 2021, 2022 mulai melihat titik cerah, eh ternyata mulai 2022 akhir dan sekarang 2023 titik cerah yang tadinya kelihatan, itu tertahan, tidak secerah bagaimana awalnya," ungkap Farras.

Di sisi lain, lanjutnya, negara berkembang yang didorong oleh China dan India karena ekonominya besar justru meningkat karena China mulai membuka ekonominya setelah zero covid policy.

"Sekali lagi, dunia mencari titik keseimbangan baru, negara maju proyeksinya menurun di tahun ini, negara berkembang proyeksinya meningkat meskipun porsi negara maju terhadap ekonomi dunia masih jauh lebih besar dibandingkan dengan negara berkembang," tutur Farras.

Editor: Jeanny Aipassa

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut