Defisit APBN 2022 Rp460,4 Triliun, Sri Mulyani: Lebih Cepat Sehat dari Amanat UU
JAKARTA, iNews.id - Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun 2022 menunjukkan defisit sebesar Rp460,4 triliun atau sebesar 2,35 persen terhadap PDB.
Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati, mengatakan defisit APBN 2022 lebih rendah dari tahun 2020 yang sebesar 4,69 persen. Angka ini juga lebih kecil dari defisit APBN 2021 yang menyentuh 4,57 persen.
"Defisit 2,35 persen sudah di bawah 3 persen dari PDB yang diamanatkan oleh UU nomor 2 tahun 2020. Ini artinya, APBN lebih cepat sehat dari amanat UU tersebut," kata Sri Mulyani, dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-29 Masa Persidangan V tahun sidang 2022-2023 di Jakarta, Selasa (11/7/2023).
Dia menyampaikan, RUU tentang Pertanggungjawaban atas Pelaksanaan (P2) APBN TA 2022. Dokumen RUU ini disampaikan dalam bentuk laporan keuangan pemerintah pusat atau LKPP tahun 2022 yang telah diperiksa oleh BPK.
Sri Mulyani: APBN Catatkan Surplus Rp204,3 Triliun di Mei 2023
RUU P2 APBN 2022 diajukan memenuhi ketentuan UU nomor 17 tahun 2003 tentang keuangan negara dan UU nomor 6 tahun 2021 tentang APBN TA 2022.
"Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, LKPP tahun 2022 terdiri atas tujuh komponen laporan. Salah satunya adalah laporan realisasi APBN," ujar Sri Mulyani,
Sri Mulyani Bertemu Investor di Inggris, Pamer APBN Sangat Baik
Laporan realisasi APBN 2022 menunjukkan bahwa realisasi pendapatan negara mencapai Rp2.635,8 triliun. Terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp2.034,5 triliun, PNBP sebesar Rp595,6 triliun, dan penerimaan hibah Rp5,7 triliun.
Realisasi pendapatan negara melampaui target yang ditetapkan dalam APBN 2022, yaitu 116,31 persen atau dalam hal ini, pendapatan negara tumbuh 31,05 persen dibandingkan tahun 2021.
"Capaian pendapatan yang sangat tinggi tersebut menunjukkan recovery and rebound yang sangat kuat, baik dari penerimaan perpajakan maupun PNBP," kata Sri Mulyani.
Kinerja pendapatan negara selaras dengan peningkatan tax ratio dari 9,12 persen pada 2021 menjadi 10,39 persen tahun 2022. Tax ratio ini, lanjut dia, adalah capaian tertinggi dalam 7 tahun terakhir.
"Tahun 2022, realisasi belanja negara mencapai Rp3.096,3 triliun, atau 99,67 persen dari pagu anggaran. Realisasi belanja terdiri dari belanja pemerintah pusat sebesar Rp2.280 triliun serta TKDD sebesar Rp816,2 triliun," ungkap Sri Mulyani.
Dia mengatakan, belanja negara meningkat Rp309,8 triliun atau 11,12 persen dibandingkan tahun 2021. "Hal ini sejalan dengan strategi APBN untuk terus mendorong pemulihan ekonomi dan menjadi shock absorber melindungi perekonomian dan masyarakat akibat dampak ketidakpastian perekonomian global.
"Guncangan kenaikan harga energi dan pangan, serta untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi pasca pandemi," papar Sri Mulyani.
Editor: Jeanny Aipassa