Ekspor Batik Indonesia ke Luar Negeri Naik 30 Persen
BOGOR, iNews.id - Kementerian Perindustrian mencatat industri batik berperan penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional karena mendatangkan nilai ekspor hingga 51,15 juta dolar Amerika Serikat (AS) hingga Oktober 2017.
Angka tersebut meningkat sekitar 30 persen dari ekspor batik pada periode yang sama tahun lalu yang mencapai 39,4 juta dolar AS.
Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menyatakan, produk batik yang didominasi IKM memiliki pasar utama ke negara-negara maju seperti Jepang, AS, dan Eropa. Produk batik Indonesia disebutnya tidak hanya menyumbang devisa yang cukup signifikan tapi juga memiliki daya saing yang tinggi di pasar dunia.
"Industri batik nasional memiliki daya saing kompetitif di pasar internasional. Indonesia menjadi market leader yang menguasai pasar batik dunia," kata Gati, Rabu (20/12/2017).
Menurut Gati, total perdagangan produk pakaian jadi dunia yang mencapai 442 miliar dolar AS menjadi peluang besar bagi industri batik untuk terus meningkatkan pangsa pasarnya, mengingat batik sebagai salah satu bahan baku produk pakaian jadi.
"Batik telah bertransformasi menjadi berbagai bentuk fesyen, kerajinan dan home decoration yang telah mampu menyentuh berbagai lapisan masyarakat dari berbagai kelompok usia dan mata pencaharian di dalam dan luar negeri," ujarnya.
Hingga saat ini, IKM batik tersebar di 101 sentra seperti di Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Yogyakarta. Jumlah tenaga kerja yang terserap di sentra IKM batik pun mencapai 15 ribu orang.
Pemerintah memiliki berbagai program strategis untuk mendongkrak produktivitas dan daya saing IKM batik, antara lain peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), pengembangan kualitas produk, standardisasi, fasilitasi mesin dan peralatan, serta kegiatan promosi dan pameran batik di dalam dan luar negeri.
Selain itu, untuk meningkatkan akses pasar, pihaknya juga memiliki program e-Smart IKM yang bekerja sama dengan beberapa marketplace.
"Melalui program e-Smart ini produk batik didorong untuk memasuki pasar online, sehingga memiliki jangkauan pasar yang lebih luas karena dapat diakses oleh konsumen dari berbagai daerah," katanya.
Kemenperin juga mendorong agar para perajin batik memperoleh berbagai fasilitas pembiayaan seperti kredit usaha rakyat (KUR), Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonsia (LPEI) dan insentif lainnya untuk memperkuat struktur modalnya.
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyampaikan, industri batik telah berkembang menjadi sektor usaha yang ramah lingkungan seiring semakin meningkatnya penggunaan zat warna alam pada kain wastra tersebut.
Hal itu juga menjadikan batik sebagai produk yang bernilai ekonomi tinggi, bahkan dengan pengembangan zat warna alam tersebut turut mengurangi importasi zat warna sintetik.
"Oleh karena itu, kami terus mendorong para perajin dan peneliti agar terus berinovasi mendapatkan berbagai varian warna alam untuk bisa mengeksplorasi potensinya, sehingga memperkaya ragam batik warna alam Indonesia," katanya.
Editor: Ranto Rajagukguk