Elia Massa Manik dan Legacy Pertamina

Analgin Ginting
Penulis, Motivator
SETAHUN sudah Elia Massa Manik menjabat direktur utama PT Pertamina (Persero). Dalam kurun waktu singkat itu sejumlah keberhasilan telah diukirnya. Namun, tantangan tak kalah besar masih menghadang.
Setahun kepemimpinan Elia Massa tentu tak dilewati dengan mudah. Bahkan di tahun pertama ini berembus kabar kurang mengenakkan. Informasi yang diwartakan beberapa media massa menyebutkan, posisi Elia Massa sebagai orang nomor satu di BUMN migas itu sedang tak aman.
Elia Massa disebut tak setuju dengan perubahan struktur organisasi (nomenklatur) Pertamina yang dilakukan Kementerian BUMN. Sebagai dampak ketidaksetujuan itu mencuat isu ada tiga nama disiapkan sebagai pengganti Elia Massa.
Penulis sempat berbicara langsung dengan Elia Massa Manik di kantornya dalam sebuah kesempatan. Elia Massa menuturkan, ada dua syarat yang dibutuhkan oleh organisasi modern untuk berhasil meraih target dan visinya. Kedua hal tersebut adalah sistem yang bagus dan sumber daya manusia (SDM) andal.
Menurut dia, sehebat apapun sistem, tetapi bila digoyang terus dengan akal dan motif motif yang tak sesuai, maka sistem itu akan goyah. Namun sebaliknya, kalau sistemnya sederhana pun jika ditopang oleh human capital yang andal, perusahaan itu akan menuju ke level dunia.
Seandainya benar terjadi friksi, pertanyaannya kemudian adalah:pantaskah Elia Massa dilengserkan dari posisi Dirut Pertamina? Adakah prestasi dalam setahun kepemimpinannya?
Masih jelas dalam ingatan bahwa pada 2017 Elia Massa Manik dipilih sebagai CEO BUMN terbaik dalam kategori pemimpin yang visioner. Inilah penghargaan yang didapatnya dua tahun berturut-turut, melanjutkan prestasinya sebagai CEO terbaik pada 2016 ketika menjabat sebagai Direktur Holding PTPN .
Penulis mencoba mencari informasi kepada beberapa orang dalam Pertamina, prestasi apa yang ditorehkan oleh Elia Massa Manik, termasuk juga kelemahannya sebagai pemimpin. Berikut ini prestasinya yang menjadi legacy di Pertamina: Pertama, Elia Massa konsisten mengkampanyekan sekaligus menjadi role model nilai nilai kejujuran, tulus dan amanah di Pertamina. Elia Massa tidak hanya mengajarkan dengan kata-kata, namun dirinya sekaligus orang pertama mempraktikkan apa yang dia ajarkan.
Kedua, melakukan transformasi mindset pekerja untuk loyal kepada perusahaan, bukan kepada atasan. Dengan demikian pekerja tetap bekerja dengan motivasi untuk membangun perusahaan.
Ketiga, menata ulang proyek Refinery Development Master Plan (RDMP), yaitu program untuk meng-up-grade kilang kilang minyak Pertamina yang sudah tua. Selain itu, sukses mengerjakan proyek Grass Root Refinery (GRR) yaitu program membangun kilang baru. Dua program ini merupakan Nawa Cita Pemerintah untuk meningkatkan ketahanan energi nasional serta mengurangi ketergantungan pada impor.
Keempat, melakukan final investment atas monetisasi proyek Jambaran Tiung Biru, Jawa Timur. Kelima, membangun budaya HSSE (health safety security and environment) dengan program program yang lebih intens, mengingat industri migas adalah industri dengan risiko tinggi.
Keenam, mengubah konsep pengembangan SDM, dari human resources menjadi human capital (saat ini dikenal empat level pemahaman atau empat kasta tentang manusia bekerja yaitu task force, human resources, human capital, dan talented people).
Ketujuh, mendorong transaksi transaksi yang lebih transparan, dan memotong intermediaries dalam pengadaan minyak mentah, BBM dan LPG. Kemudian, membangun portofolio bisnis LNG/Gas Pertamina di pasar global, melanjutkan legacy Pertamina yang pernah tercatat sebagai penjual LNG terbesar di dunia dengan reputasi diakui dan dihormati dunia.
Kesembilan, menyadarkan seluruh pekerja bahwa posisi Pertamina di antara perusahaan kelas dunia masih cukup jauh tertinggal sehingga perlu kerja keras dan extra miles. Selain itu di tangan Elia Massa terjadi percepatan menghilangkan budaya birokrasi yang sudah cukup lama berakar dan diwariskan sejak puluhan tahun yang lalu.
Kepemimpinan Elia Massa juga sukses mengambil alih lapangan Mahakam dari Total Indonesia. Pada 1 Januari 2018 jam 00.01 Lapangan Mahakam mulai dioperasikan Pertamina. Proses itu berjalan mulus dan lancar. Tidak terjadi keresahan dan gejolak sama sekali.
Yang juga tak boleh dilupakan, terciptanya harga BMM satu harga di seluruh Indonesia dengan keberhasilan supply BBM di Papua. Ini peristiwa pertama dalam sejarah Indonesia Merdeka.
Satu-satunya kelemahan Elia Massa yang oleh beberapa orang tidak disenangi adalah cara berbicara yang muncul dari karakter sejatinya. Karakter yang sering meledak-ledak, kadang kala membuat suasana menjadi tegang. Namun sebenarnya hal tersebut dilakukan agar perusahaan bisa bertumbuh dengan lebih cepat, lebih unggul dari perusahan lain, berkelas dunia (world class), serta memberi kontribusi yang lebih besar bagi stakeholder, khususnya bagi Indonesia.
Kalau begitu apa kelemahan Elia Massa Manik? Apa kegagalannya yang dapat merugikan negara? Jawabnya tidak ada. Sulit mencari kelemahan Elia Massa karena dia memang pekerja profesional dengan etos kerja luar biasa.
Elia Massa juga mempunyai prinsip yang dia pertahankan selamanya dalam hidup dan pekerjaannya. Oleh sebab itu langkah paling bijak adalah mempertahankan kedudukan Elia Massa Manik sebagai Dirut Pertamina, dua hingga tiga tahun lagi.
Melengserkan Elia Massa Manik ibarat menentang profesionalisme dalam tubuh BUMN. Mengganti Elia Massa Manik sekarang ini sama dengan membiarkan keterpurukan terjadi dalam dunia industri migas Indonesia.
Editor: Zen Teguh