Erick Thohir Sebut Ekonomi Indonesia pada 2038 dalam Kondisi Lampu Kuning, Begini Penjelasannya

Suparjo Ramalan ยท Sabtu, 11 Desember 2021 - 18:36:00 WIB
Erick Thohir Sebut Ekonomi Indonesia pada 2038 dalam Kondisi Lampu Kuning, Begini Penjelasannya
Menteri BUMN Erick Thohir menyebut adanya kemungkinan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2038. (foto: YouTube Institut Teknologi Sepuluh Nopember/ITS)

JAKARTA, iNews.id - Menteri BUMN Erick Thohir menyebut adanya kemungkinan perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia di tahun 2038. Dia menyebut, perekonomian Tanah Air berada dalam kondisi 'lampu kuning' atau gawat.

Meski begitu, Erick mencatat bahwa kondisi makro ekonomi Indonesia akan terus tumbuh hingga tahun 2045. Proyeksi tersebut sejalan dengan market dalam negeri yang diklaim paling besar di Asia Tenggara.

"Kita masih tumbuh terus hingga 2045. Tapi, tadi saya kasih lihat slide Brazil, nanti di 2038 kita udah mulai 'lampu kuning', ketika apa? Pertumbuhannya melambat," ujar Erick dalam orasi ilmiah di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Sabtu (11/12/2021).

Adapun istilah 'lampu kuning' untuk menggambarkan kondisi makro ekonomi Tanah Air belum begitu jelas. Hanya saja, Erick menyinggung pada saat ini pendapatan kelas menengah (middle income class) mengalami perlambatan, bahkan menyusut. 

"Yang namanya segitiga kita berubah jadi begini (segitiga terbalik) segitiga yang tadinya bonus demografi banyak, middle income class-nya tumbuh, nanti berubah orang tuanya banyak, middle income class-nya susut, ini realita," kata dia.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, dia menyampaikan bahwa pemerintah perlu melakukan intervensi pada proses hilirisasi sumber daya alam (SDA) yang dimiliki saat ini. Langkah itu dilakukan melalui program transfoemasi sejumlah perusahaan negara. 

"BUMN sebagai sepertiga dari kekuatan ekonomi Indonesia, kita melakukan penyeimbangan dan intervensi. Jadi, di sini saya bilang, sudah waktunya kita menjadi sentra pertumbuhan ekonomi dunia yang berdasarkan roadmap atau blueprint yang Indonesia punya, bukan yang negara lain punya," ucapnya.

Editor : Aditya Pratama

Bagikan Artikel: