Ini Pesan Ma’ruf Amin ke Industri Asuransi Syariah untuk Hindari Gagal Bayar

Antara · Selasa, 30 Juni 2020 - 11:56 WIB
Ini Pesan Ma’ruf Amin ke Industri Asuransi Syariah untuk Hindari Gagal Bayar

Wakil Presiden KH Ma'ruf Amin. (Foto: Setwapres).

JAKARTA, iNews.id - Wakil Presiden (Wapres) Ma'ruf Amin meminta industri asuransi berbasis syariah harus dapat menghindari persoalan gagal bayar klaim asuransi milik nasabah. Apalagi, hal tersebut karena salah dalam pengelolaan investasi perusahaan.

Untuk menghindari kegagalan dalam memberikan klaim nasabah asuransi tersebut, Ma'ruf mengingatkan pentingnya tata kelola yang baik atau good corporate governance dalam industri asuransi syariah. "Penerapan aspek good corporate governance yang baik diharapkan dapat menghindari masalah-masalah dalam industri asuransi, seperti kasus gagal bayar pada perusahaan asuransi," kata Ma’ruf saat memberikan sambutan dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) di Jakarta, Selasa (30/6/2020).

Penerapan tata kelola usaha yang baik, lanjut dia, juga dapat meningkatkan kepercayaan nasabah dan memberikan jaminan keamanan bagi para konsumen asuransi syariah. Selain itu industri asuransi syariah harus dapat mencari potensi yang selama ini belum disediakan, sehingga pertumbuhan asuransi syariah dapat meningkat dan semakin dikenal masyarakat. 

"Industri asuransi syariah harus lebih banyak meningkatkan inovasi-inovasi produknya untuk meningkatkan inklusi dan mendukung pertumbuhan asuransi syariah," tutur dia.

Untuk menjadikan asuransi syariah menjadi inklusi, Ma'ruf meminta industri jasa keuangan syariah itu menggalakkan strategi pemasaran supaya kesadaran masyarakat terhadap produk tersebut meningkat. “Eksposur industri syariah perlu terus ditingkatkan untuk meningkatkan awareness terhadap produk dan industri asuransi syariah," ujarnya.

Dengan strategi tersebut, Ma'ruf berharap industri keuangan syariah dapat bertahan dan berkembang di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan nasional sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Editor : Ranto Rajagukguk