Jerman Masuk Resesi, Ekonomi Kuartal II 2020 Minus 10,1 Persen

Djairan ยท Jumat, 31 Juli 2020 - 12:01 WIB
Jerman Masuk Resesi, Ekonomi Kuartal II 2020 Minus 10,1 Persen

Ekonomi Jerman masuk resesi, seiring laporan Kantor Statistik Federal setempat yang mencatat output Produk Domestik Bruto (PDB). (Foto: Ist)

BERLIN, iNews.id - Ekonomi Jerman masuk resesi seiring laporan Kantor Statistik Federal setempat yang mencatat output Produk Domestik Bruto (PDB) ekonomi negara terbesar di Eropa itu minus 10,1 persen pada kuartal II 2020. Hal ini menyusul pertumbuhan negatif pada kuartal I yang juga tercatat minus 2,0 persen.

Kondisi tersebut merupakan kontraksi ekonomi Jerman yang paling curam dalam data pertumbuhan triwulanan sejak tahun 1970. Penurunan itu dipicu oleh pengeluaran konsumen, investasi perusahaan dan ekspor yang semuanya runtuh selama puncak pandemi Covid-19.

“Baik ekspor dan impor barang dan jasa runtuh pada kuartal kedua tahun ini, seperti halnya pengeluaran rumah tangga dan investasi. Namun dibalik itu pengeluaran negara tercatat meningkat,” ujar pihak Kantor Statistik Federal Jerman dikutip dari Reuters Jumat (31/7/2020).

Ekonomi Jerman sebagai yang terbesar di daratan Eropa telah terpukul sangat keras oleh pandemi Covid-19, dampak dari kebijakan lockdown diberlakukan ketat di sana. Penurunan tersebut juga lebih buruk dari kontraksi 9 persen yang diprediksi oleh para ekonom dalam jajak pendapat Reuters.

"Sekarang sudah resmi resesi, saya sebut ini adalah resesi seabad. Apa yang sejauh ini tidak mungkin terjadi meskipun crash pasar saham atau guncangan harga minyak yang bergejolak, namun bisa terjadi oleh makhluk mungil 160 nanometer bernama Covid-19," ujar ekonom DekaBank Andreas Scheuerle.

Jerman adalah salah satu negara pengekspor utama dalam barang-barang manufaktur sehingga tak terhindarkan dari dampak pandemi yang mengganggu perdagangan internasional. Jumlah orang yang kehilangan pekerjaan sempat turun 18.000 menjadi 2,923 juta jiwa, namun tingkat pengangguran masih tetap di kisaran 6,4 persen.

Editor : Ranto Rajagukguk