Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Pengadilan Kriminal Internasional Bekukan Uang Eks Presiden Filipina Duterte
Advertisement . Scroll to see content

Kejar Indonesia, Vietnam dan Filipina Naik Kelas Jadi Negara Menengah Atas

Jumat, 03 Juli 2026 - 18:46:00 WIB
Kejar Indonesia, Vietnam dan Filipina Naik Kelas Jadi Negara Menengah Atas
Bank Dunia resmi menaikkan status ekonomi Vietnam dan Filipina menjadi negara berpendapatan menengah atas, sejajar dengan Indonesia. (Ilustrasi/Chat GPT)
Advertisement . Scroll to see content

MANILA, iNews.idBank Dunia resmi menaikkan status ekonomi Vietnam dan Filipina menjadi negara berpendapatan menengah atas, sejajar dengan Indonesia. Kenaikan kelas ini merupakan hasil dari pertumbuhan ekonomi kedua negara yang konsisten selama bertahun-tahun dan diperkirakan akan semakin meningkatkan kepercayaan investor.

Dalam pembaruan klasifikasi pendapatan yang dirilis pada 1 Juli, Bank Dunia menempatkan Vietnam dan Filipina ke kelompok negara berpendapatan menengah atas setelah pendapatan nasional bruto (Gross National Income/GNI) per kapita keduanya melampaui ambang batas yang ditetapkan lembaga tersebut.

Dengan status baru tersebut, Vietnam dan Filipina bergabung dengan Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Thailand sebagai negara-negara Asia Tenggara yang masuk kelompok berpendapatan menengah atas atau lebih tinggi.

Dilansir dari situs Kementerian Keuangan, Indonesia pertama kali masuk kelompok negara berpendapatan menengah pada 2004. Status Indonesia sempat naik menjadi negara berpendapatan menengah atas pada 2020, tetapi kemudian turun akibat dampak pandemi Covid-19. Pada 2023, Indonesia kembali masuk kategori negara berpendapatan menengah atas dan bertahan hingga saat ini.

Sementara itu, Vietnam sebelumnya berstatus negara berpendapatan menengah bawah sejak 2009. Adapun Filipina berada dalam kategori yang sama sejak akhir 1980-an.

Bank Dunia menjelaskan, keberhasilan Vietnam didorong oleh strategi pembangunan yang bertumpu pada ekspor. Sementara pertumbuhan ekonomi Filipina dinilai lebih merata karena ditopang hampir seluruh sektor industri, bukan hanya bergantung pada satu sektor tertentu.

Data Bank Dunia, pendapatan nasional bruto per kapita Vietnam pada 2025 mencapai 4.970 dolar AS, sedangkan Filipina sebesar 4.850 dolar AS. Keduanya telah melampaui ambang batas Bank Dunia sebesar 4.636 dolar AS untuk masuk kategori negara berpendapatan menengah atas.

Sekretaris Perencanaan Ekonomi Filipina, Arsenio Balisacan mengatakan, pencapaian tersebut merupakan hasil dari kebijakan pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi yang inklusif meski menghadapi berbagai tekanan global maupun domestik.

"Terlepas dari berbagai guncangan global dan domestik, kami terus mengejar pertumbuhan yang inklusif, memperkuat fundamental ekonomi, dan tetap berada di jalur agenda pembangunan," ujar Balisacan dalam keterangannya, dilansir dari The Straits Times, Jumat (3/7/2026).

Meski sama-sama naik kelas, prospek kedua negara dinilai berbeda. Vietnam yang menjadi salah satu ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di Asia, menargetkan pertumbuhan ekonomi dua digit mulai 2026. Target ambisius tersebut ditopang reformasi yang lebih ramah terhadap dunia usaha serta investasi besar-besaran di sektor infrastruktur.

Sebaliknya, Filipina menghadapi tantangan yang lebih berat. Pemerintah negara itu memangkas target pertumbuhan ekonomi untuk periode 2026-2030 akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dan dampak fenomena cuaca El Nino yang memengaruhi aktivitas ekonomi.

Selain Vietnam dan Filipina, Bank Dunia juga menaikkan status Jordan, Micronesia, dan Sri Lanka menjadi negara berpendapatan menengah atas. Sementara Togo naik dari kategori negara berpendapatan rendah menjadi negara berpendapatan menengah bawah.

Bank Dunia juga mencatat tren positif secara global. Porsi negara yang masih tergolong berpendapatan rendah kini tinggal sekitar 11 persen dari seluruh negara di dunia, turun signifikan dibandingkan sekitar 30 persen pada 1987.

Meski menjadi pencapaian penting, kenaikan status tersebut juga membawa konsekuensi. Sebagai negara berpendapatan menengah atas, Vietnam dan Filipina berpotensi memperoleh akses yang lebih terbatas terhadap pinjaman pembangunan berbunga rendah dari lembaga-lembaga internasional. Selama ini, Filipina misalnya, banyak memanfaatkan fasilitas tersebut untuk membiayai pembangunan infrastruktur, pemulihan pascabencana, hingga berbagai program sosial.

Kepala Ekonom Union Bank of the Philippines, Ruben Carlo Asuncion, mengatakan klasifikasi Bank Dunia menunjukkan tingkat kemampuan suatu negara dalam membiayai pembangunannya sendiri.

"Semakin tinggi posisi suatu negara dalam klasifikasi Bank Dunia, semakin besar pula kemampuannya memenuhi kebutuhan dan membiayai pembangunan secara mandiri, termasuk dari sisi fiskal," ujarnya.

Namun, Balisacan menilai berkurangnya sebagian bantuan pembangunan berbunga rendah akan diimbangi manfaat yang lebih besar berupa meningkatnya kepercayaan pasar dan semakin kuatnya fundamental ekonomi negara.

Dia juga mengingatkan status baru tersebut tidak serta-merta menghapus berbagai persoalan yang masih dihadapi Filipina.

"Kesenjangan pendapatan masih ada dan banyak masyarakat yang tetap menghadapi kesulitan ekonomi," katanya.

Editor: Maria Christina

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut