Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Purbaya Heran AS Bisa Serang Venezuela: PBB-nya Lemah Sekarang
Advertisement . Scroll to see content

Krisis Venezuela, Pemerintah Pastikan Ekonomi RI Tetap Aman

Kamis, 23 Agustus 2018 - 20:47:00 WIB
Krisis Venezuela, Pemerintah Pastikan Ekonomi RI Tetap Aman
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.idEkonomi Venezuela, salah satu negara yang kaya akan minyak tengah terpuruk menyusul hiperinflasi yang terjadi pada negara itu. Akibat inflasi yang tinggi, banderol barang melambung cukup tinggi dan mata uang Venezuela, Bolivar menjadi tak berharga.

Beruntung, kerusakan ekonomi Venezuela tak memberi dampak psikologis ke global. Tak seperti krisis keuangan Turki, meski temporer tapi sempat menerpa pasar keuangan global sehingga menekan nilai tukar rupiah.

Staf Khusus Presiden Ahmad Erani Yustika memastikan, ambruknya ekonomi Venezuela tak akan berpengaruh ke Indonesia. Pemerintah dinilai terus memonitor perkembangan ekonomi nasional agar tetap stabil.

"Ya saya kira sekarang berjalan masih seperti biasanya. Sampai sekarang saya kira tidak ada upaya dari pemerintah yang spesifik untuk itu. Pemerintah hanya melakukan monitoring secara keseluruhan kondisi ekonomi secara umum bukan per negara," ujarnya ditemui di Tjikini Lima Resto, Jakarta, Kamis (23/8/2018).

Menurut dia, pemerintah saat ini telah berupaya menjaga kestabilan ekonomi Indonesia secara konsisten, mulai dari inflasi, hingga defisit anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

"Syukur alhamdulillah beberapa indikator kunci pemerintah dalam menjaga koridor baik inflasi di bawah 4 persen itu modal yang bagus. Kedua defisit fiskal ditekan bahkan jauh di bawah 3 persen, tahun ini sekitar 2,1 persen, tahun depan 1,8 persen," tutur dia.

Terkait neraca perdagangan, dia akui, Indonesia masih kesulitan untuk membalikkan lagi ke status angka surplus. Pada Juli 2018, neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 2,03 miliar dolar AS.

"Sampai sekarang kita memang masih defisit, tapi kalau mengacu polanya pada tahun lalu maka diperkirakan sampai akhir tahun kita akan surplus meskipun tidak akan setinggi seperti tahun 2017. Sehingga kalau nanti pada bulan-bulan berikutnya neraca perdagangan kita surplus kembali, maka tekanan terhadap nilai tukar kita juga tidak akan banyak," ucapnya.

Di sisi lain, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di pasar keuangan masih batas wajar meski sempat merosot ke level Rp14.600 per dolar AS.

"Kemudian tidak sama dengan negara-negara yang tadi disebutkan, depresiasi nilai tukar rupiah masih dalam batas yang moderat. Kita tidak terlalu turun drastis pelemahannya dan sekarang sudah mulai stabil kembali," ujarnya.

Sebagai informasi, nilai mata uang Bolivar Venezuela ambruk dan hampir tak berharga karena kemerosotan ekonomi yang parah. Nilai 1 dolar Amerika Serikat (AS) kini bisa setara lebih dari 6,3 juta Bolivar.

Nilai Bolivar Venezuela yang begitu rendah akan membuat warga yang hanya ingin sekadar membeli daging ayam atau telor, harus mengangkut uang dengan gembolan. Hal itu disebabkan Venezuela belum mencetak uang kertas dengan nilai miliar atau triliun.

Bahkan, ribuan warga Venezuela eksodus ke negara-negara tetangga seperti Ekuador, Peru dan Brasil. Venezuela sedang menghadapi krisis ekonomi dan kemanusiaan di mana hidup dengan kekurangan pangan, rumah sakit yang penuh sesak, inflasi dan kekacauan politik.

Editor: Ranto Rajagukguk

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut