Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : AEI Golf Tournament 2026 Resmi Ditutup, Team KSEI Rebut Signature Trophy
Advertisement . Scroll to see content

Menko Airlangga: Tenaga Kesehatan dan TNI-Polri Penerima Vaksin Covid-19 Pertama

Kamis, 10 Desember 2020 - 16:05:00 WIB
Menko Airlangga: Tenaga Kesehatan dan TNI-Polri Penerima Vaksin Covid-19 Pertama
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto. (Foto: BNPB).
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Tenaga Kesehatan seperti dokter dan perawat serta aparat Kepolisian dan Tentara Republik Indonesia (TNI) merupakan garda depan (front liners) yang akan mendapatkan injeksi vaksin Covid-19 terlebih dahulu. Prioritas ini sesuai dengan instruksi dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) sekaligus mengikuti standar World Health Organization (WHO). 

“Kami memohon kesabaran seluruh warga Indonesia karena vaksin datang secara bertahap dan karenanya kami harus membuat prioritas. Penetapan prioritas ini telah mengikuti standar yang diberikan oleh WHO dan juga melalui ITAGI (Indonesian Technical Advisory Group on Immunization/ITAGI) serta mereka yang ahli di bidangnya,” kata Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN) sekaligus Menteri Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto di Jakarta. 

Karena sifatnya bertahap dengan jangka waktu akhir 2020, di awal 2021 sampai dengan 2022, maka protokol kesehatan harus tetap dilakukan. “Kami meminta masyarakat tetap menerapkan  3T, Testing, Tracing dan Treatment serta 3M, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, memakai masker serta menjaga Jarak,” ujarnya. 

Saat ini, pemerintah telah menyiapkan untuk sekitar 65 persen dari total penduduk Indonesia, yaitu Vaksin Program sebanyak 32 juta dosis yang digratiskan melalui iuran BPJS serta Vaksin Mandiri sebanyak 75 juta dosis. “Sebanyak 32 juta dosis disiapkan untuk yang menerima bantuan iuran BPJS yang tidak memiliki komorbit dan berusia antara 18-59 tahun. Rentan usia dan kondisi penerima ini disesuaikan dengan yang mengikuti uji klinis,” ucapnya.

Sedangkan untuk Vaksin Mandiri, Airlangga mengungkapkan, hal tersebut dapat diakses melalui Sektor Industri Padat Karya di mana perusahaan menyediakan vaksin untuk karyawannya dan bisa didapat salah satunya melalui BPJS Ketenagakerjaan. “Tentunya nanti akan kita dorong lebih luas lagi bagi penerima vaksin. Hal ini harus dilakukan secara bertahap secara melihat efektivitasnya,” katanya. 

Pemerintah telah menyiapkan pengadaan vaksin sejak Maret 2020 melalui pembicaraan dengan Sinovac dan beberapa produsen vaksin lainnya. Melalui intensitas pembicaraan dengan Sinovac, Indonesia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti uji klinis fase ketiga dan dimulai di Bandung. 

Indonesia menjadi salah satu dari lima negara yang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti uji klinis fase ketiga dan akses yang pertama melakukan pembelian. “Akses yang pertama itu pengirimannya sesuai dengan jadwal yang kemarin kita terima 1,2 juta di bulan Desember dan di tahun depan ada 1,8 juta dalam bentuk vaksin jadi (suntikan). Kemudian kita juga mendapatkan 15 juta di bulan Desember dalam bentuk bahan baku yang akan dipelajari Bio Farma dalam melakukan produksi vaksin,” ujarnya.

Lebih lanjut Airlangga menjelaskan, dalam tahapan persetujuan BPOM dan dan mendapatkan fatwa MUI, kedua lembaga ini sudah mengirim tim ke China. “Mereka sudah melihat cara pembuatan vaksin di pabriknya di China. Dengan begitu diharapkan tinggal menunggu konfirmasi, evaluasi  dari fase uji klinis ketiga dan data yang diserahkan oleh Sinovac ke BPOM,” ucapnya. 

Dari evaluasi dari fase ketiga uji klinis tersebut, Airlangga mengatakan, BPOM juga perlu mendapatkan seluruh informasi yang diperoleh oleh Sinovac di seluruh negara di luar Indonesia untuk dilakukan perbandingan. Hal ini, menurutnya, untuk meyakinkan vaksin tersebut memiliki efektivitas serta melihat aspek keamanan, baku mutu dan persentase keberhasilannya. “Saat ini mereka menganalisis laporan dan menunggu hasil uji klinis dari di Bandung. Diharapkan ketiga uji klinis ini sudah didapat datanya pada awal desember dan  membutuhkan waktu 1-2 minggu untuk membandingkan data-data dengan negara lain,” katanya.

Menurut Airlangga, pemerintah juga sudah melakukan pembicaraan dengan produser vaksin yang lain seperti COVAX, GAVI, Pfizer, AstraZeneca PLC serta Novavax. Selain itu, pemerintah juga telah mengembangkan Vaksin Merah Putih.  

“Kami menyiapkan multi source dari vaksin untuk memastikan ketersediaannya,” ujarnya.

Airlangga juga mengundang masyarakat yang ingin berpartisipasi dalam uji klinis. Menurutnya, masyarakat dapat menghubungi Fakultas Kedokteran di universitas-universitas yang saat ini melakukan uji klinis. 

Misalnya, Biofarma dengan Universitas Padjadjaran, UGM dengan Taiwan, UI dengan perusahaan Amerika. “Uji klinis ini dikoordinasi oleh Kementerian Kesehatan dan BPOM,” tuturnya.

Editor: Ranto Rajagukguk

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut