Menteri ESDM Era Soeharto Ungkap Tantangan Perekonomian RI

Rully Ramli ยท Rabu, 28 November 2018 - 19:07:00 WIB
Menteri ESDM Era Soeharto Ungkap Tantangan Perekonomian RI
Menteri Pertambangan dan Energi 1978-1988 Subroto. (Foto: iNews.id/Rully Ramli)

JAKARTA, iNews.id - Menteri Pertambangan dan Energi (Kementerian ESDM) 1978-1988 Subroto mengatakan, setidaknya ada tiga tantangan utama yang akan memengaruhi perekonomian nasional ke depan. Pertama situasi global, revolusi industri dan terakhir kebijakan pemanasan global (global warming).

Subroto memaparkan, situasi global yang kini bergejolak cukup memberi dampak besar terhadap negara-negara berkembang, tak terkecuali Indonesia. Contohnya saja, perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China yang telah menimbulkan ketidakpastian sehingga bisa memberi tekanan ke ekonomi nasional.

"Masalah pertama perang antara China dengan AS dalam masalah perdagangan. Indonesia sebagai eksportir, terutama eksportir barang-barang komoditi, akan tergantung kepada perang ini. Sehingga harganya akan fluktuatif," kata Subroto, melalui pidatonya di dalam salah satu forum Djakarta Theater, Rabu (28/11/2018).

Pria yang juga sempat menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) periode 1988-1994 mengatakan, ketergantungan Indonesia kepada komoditi ada kaitannya dengan tantangan yang kedua, yaitu Revolusi Industri 4.0. Indonesia dinilai harus bisa meningkatkan industrialisasi sehingga tidak lagi bergantung kepada komoditi yang harganya fluktuatif.

Ia mengakui masih belum bisa menjelaskan secara detail apa saja yang perlu dilakukan untuk menghadapi fase ini. Akan tetapi, Indonesia harus bisa memaksimalkan era ini. "Masalah industri revolusi 4.0, barang kali belum bisa gambarkan artinya revlousi. Akan tetapi yang pasti ini dapat membuat kehidupan kita lebih mudah, kemudian juga bisa mempengaruhi segala aspek kehidupan bangsa," katanya.

Meski perlu meningkatkan industrialisasi, Subroto mengingatkan, Indonesia perlu menyoroti perkembangan pemanasan global atau global warming. Mengacu kepada Paris Agreement 2015 yang diprakarsai Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), Indonesia perlu menjaga agar suhu dunia tidak kembali naik.

"Indonesia saja sekarang sudah merasakan akibat peningkatan panas itu. Kalau 2017 atau 2016 kita belum sering muncul puting beliung, tapi sekarang ini 2018 beberapa kali kits terkena puting beliung atau topan kecil, yang daya rusaknya bukan main," kata Subroto.

Editor : Ranto Rajagukguk