Pemerintah Kebut Pembangunan 3 Bendungan di Sulsel

Antara · Senin, 19 Februari 2018 - 11:57 WIB
Pemerintah Kebut Pembangunan 3 Bendungan di Sulsel

Ilustrasi (Foto: Okezone.com)

JAKARTA, iNews.id - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) akan mempercepat proses penyelesaian pembangunan tiga bendungan di Provinsi Sulawesi Selatan, demi meningkatkan suplai air bagi lahan pertanian di daerah tersebut.

"Sulsel adalah salah satu satu sentra pangan nasional dan untuk itu proyek tiga bendungan di sana harus dipercepat," kata Basuki Hadimuljono, Menteri PUPR di Jakarta, Senin (19/2/2018).

Tiga bendungan itu yakni Bendungan Paselloreng di Kabupaten Wajo, Karalloe di Kabupaten Gowa, dan yang baru dimulai pembangunan konstruksinya adalah Bendungan Pamukkulu di Kabupaten Takalar. Selain membangun bendungan, kata Basuki, pihaknya juga membangun Daerah Irigasi Baliase yang dilengkapi dengan pembangunan Bendung Baliase di Kabupaten Luwu Utara.

Pembangunan Bendungan Paselloreng ditargetkan rampung Desember 2018. Untuk Bendungan Karalloe, konstruksinya dimulai lebih dulu, namun sempat mengalami masalah pengadaan lahan, sekarang sudah diselesaikan, mudah-mudahan progres konstruksi lebih cepat lagi. Sementara Bendungan Pamukkulu dalam tahap persiapan yakni penyiapan jalan akses kerja, kata Menteri Basuki.

Basuki optimistis penyelesaian bendungan akan tepat waktu, namun diupayakan bisa selesai lebih cepat, hal itu dikarenakan pembangunan bendungan kini masuk dalam daftar Proyek Strategis Nasional (PSN) sehingga biaya pembebasan lahannya dapat menggunakan mekanisme dana talangan. Melalui mekanisme tersebut kontraktor akan membayar lahan yang telah siap dibebaskan dan nantinya akan dibayarkan oleh Lembaga Manajemen Aset Negara (LMAN).

Sementara itu Direktur Jenderal Sumber Daya Air (SDA) Kementerian PUPR Imam Santoso menyebut, pembangunan bendungan akan dilengkapi dengan pembangunan jaringan irigasi yang disebut sebagai Irigasi premium atau irigasi yang mendapat jaminan suplai air bendungan.

Dengan demikian, biaya pembangunan bendungan yang mahal, dapat dipastikan airnya mengalir sampai ke sawah petani dan sumber air baku masyarakat. Irigasi yang suplai airnya bukan dari bendungan, cropping intensity-nya 1-1,5 kali. Dengan suplai air yang berkelanjutan dari bendungan akan meningkat menjadi 2,75 kali.

"Saat ini dari 7,3 juta hektar irigasi baru 11 persen yang mendapatkan suplai air dari bendungan dan akan ditingkatkan menjadi 20 persen melalui pembangunan 65 bendungan yang tengah dilakukan Kementerian PUPR 2015-2019," kata Imam.

Progres fisik Bendungan Paselloreng per 14 Februari 2018 sebesar 68,22 persen. Kapasitas tampung maksimal bendungan yakni 138 juta m3 yang merupakan terbesar dibandingkan Karalloe dan Pamukkulu. Bendungan ini akan mengairi irigasi seluas kurang lebih 7.000 ha dan menjadi sumber air baku untuk empat kecamatan di Kabupaten Wajo sebesar 305 liter per detik, konservasi air, pengendali banjir Sungai Gilireng, perikanan air tawar dan pariwisata.

Konstruksi bendungan dikerjakan oleh PT Wijaya Karya PT Bumi Karsa, KSO (Kerjasama Operasi) dengan biaya Rp736 miliar. Sementara sebagai konsultan supervisi adalah PT. Mettana, PT. Timor Konsultan, PT. Raya Konsultan KSO dengan nilai Rp37 miliar.

Progres pembangunan Bendungan Karalloe yang mulai dibangun Desember 2013, sudah mencapai 39,82 persen dan ditargetkan rampung 2019. Dalam pembangunannya sempat mengalami kendala pengadaan lahan. Namun saat ini lahan yang bebas sudah mencapai 97 persen dan tersisa tiga persen atau sekitar 14,5 ha. Kapasitas tampung maksimalnya sebesar 40,53 juta m3.

Konstruksi bendungan dikerjakan oleh PT Nindya Karya (Persero) dengan Rp568 miliar dan konsultan supervisi oleh PT Widya Graha Asana, PT Tata Guna Patria, PT Bintang Tirta Pratama, PT Catur Bina Guna Persada (KSO) dengan nilai Rp15 miliar. Manfaat bendungan ini akan mengairi irigasi seluas 7.000 hektar, sumber air baku 440 liter/detik, pembangkit listrik 4,5 MW, pengendali banjir, konservasi air dan pariwisata. Bendungan Pamukkulu menjadi bangunan terbaru yang dibangun di Sulawesi Selatan.

Kontrak pembangunannya ditandatangani pada November 2017 terbagi menjadi dua paket konstruksi. Paket 1 senilai Rp852 miliar dikerjakan PT Wijaya Karya (Persero), PT Daya Mulia Turangga (KSO) untuk pekerjaan diantaranya pembangunan bendungan utama.

Untuk Paket 2 senilai Rp811 miliar dikerjakan oleh kontraktor PT Nindya Karya dengan pekerjaan diantaranya relokasi jalan dan rehabilitasi jalan masuk, terowongan pengelak, bendungan pelimpah, dan pekerjaan hidromekanikal. Untuk konsultan supervisi dilakukan oleh PT. Indra Karya, PT. Virama Karya, PT. Bina Karya Persero senilai Rp53,7 miliar.

Bendungan ini memiliki kapasitas tampung maksimum 82,7 juta m3 dan akan memberi manfaat bagi irigasi seluas 6.150 ha, penyediaan air baku Kota Takalar sebesar 160 liter/detik, pengendalian banjir, konservasi air, pengembangan pariwisata, dan perikanan air tawar.

Selain membangun tiga bendungan, potensi air sangat besar dimiliki Sulsel juga dioptimalkan dengan membangun Daerah Irigasi Baliase dan memiliki saluran irigasi sekunder sepanjang 207 km serta saluran pembuang sepanjang 114 km.

Dibangunnya Daerah Irigasi Baliase, luas lahan potensial yang bisa dikembangkan mencapai 21,9 ribu ha, sementara luas lahan fungsional saat ini baru mencapai 5,9 ribu ha. Pembangunan daerah irigasi yang sangat luas ini membutuhkan waktu selama tiga tahun sejak November 2015 hingga November 2018 dengan anggaran Kementerian PUPR senilai Rp215 miliar.

"Di lapangan sedang dibangun jaringan irigasi, untuk bendung progresnya sudah mencapai 85 persen dan penyelesaian kantong lumpur di sisi sebelah kanan. Penataan kawasan sudah dimulai yakni seluruh wilayah Bendung Baliase akan ditanami tanaman produktif," kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang T. Iskandar.


Editor : Rahmat Fiansyah