Pertama sejak 1962, ADB Prediksi Ekonomi Asia Bakal Minus pada 2020

Djairan ยท Selasa, 15 September 2020 - 22:44 WIB
Pertama sejak 1962, ADB Prediksi Ekonomi Asia Bakal Minus pada 2020

Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) mengungkapkan ekonomi di sebagian besar wilayah Asia akan menyusut pada 2020. (Foto: Ist)

MANILA, iNews.id - Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB) mengungkapkan ekonomi di sebagian besar wilayah Asia akan menyusut pada 2020. Hal itu akan menjadi kontraksi ekonomi kawasan untuk pertama kalinya sejak 1962.

Kepala ekonom ADB Yasuyuki Sawada memperkirakan Produk Domestik Bruto (PDB) Asia akan minus 0,7 persen pada 2020 atau tiga perempat dari ekonomi di kawasan tersebut. Angka itu turun dari proyeksi bulan Juni yaitu tumbuh positif 0,1 persen. Bank yang berbasis di Manila, Filipina itu memaparkan dalam sebuah laporan pada Selasa.

"Ancaman ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19 akan tetap kuat, karena gelombang pertama yang berkepanjangan atau wabah berulang dapat mendorong tindakan penanggulangan lebih lama. Penurunan akan lebih luas daripada krisis sebelumnya,” ujar Sawada dikutip dari Bloomberg, Selasa (15/9/2020).

Dalam paparannya, ADB  menyebut, China akan melawan tren ekonomi kebanyakan dengan perkiraan tumbuh positif 1,8 persen tahun ini. Angka itu tidak berubah dari proyeksi pada Juni, seiring keberhasilan Negeri Tirai Bambu itu menangani dampak Covid-19. Pertumbuhan itu diperkirakan makin meningkat menjadi 7,7 persen pada tahun 2021, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 7,4 persen.

Sedangkan India, di mana kebijakan lockdown telah menghentikan pengeluaran swasta, PDB diperkirakan minus 9 persen tahun ini, turun tajam dari perkiraan bulan Juni minus 4 persen. Terdapat juga penurunan besar untuk Filipina minus 7,3 persen dan Thailand minus 8 persen pada tahun ini.

“Sebelum ini, asumsi dasar kami memperkirakan bahwa risiko kesehatan pada dasarnya akan terkendali dalam tahun ini. Sedangkan stimulus fiskal skala besar tampaknya dapat membantu meredam pukulan dan memberikan dasar untuk rebound,” kata Sawada.

Sementara itu, ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat (AS) dengan China hingga konflik teknologi di beberapa negara akan membebani pertumbuhan. Sawada menyebut, kebijakan yang berfokus pada kesehatan, mata pencaharian dan memulai kembali bisnis sangat penting untuk memastikan pemulihan yang berkelanjutan bagi ekonomi Asia.    

Editor : Ranto Rajagukguk