Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Airlangga Tegaskan Fundamental Ekonomi Kuat
Advertisement . Scroll to see content

Rupiah Ditutup Loyo ke Rp18.109 per Dolar AS, Ini Penyebabnya

Senin, 13 Juli 2026 - 15:47:00 WIB
Rupiah Ditutup Loyo ke Rp18.109 per Dolar AS, Ini Penyebabnya
Ilustrasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah menjadi Rp18.109 pada Senin (13/7/2026) sore. (Foto: iNews.id)
Advertisement . Scroll to see content

JAKARTA, iNews.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin (13/7/2026) menjadi Rp18.109 per dolar AS. Kurs rupiah turun 44 poin atau sekitar 0,24 persen.

Menurut Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi salah satu sentimen datang dari eksternal yakni AS dan Iran telah saling melancarkan serangan rudal dan drone berat, dengan Teheran menargetkan fasilitas AS di negara-negara di seluruh Teluk pada hari Minggu dan mengatakan bahwa mereka telah kembali menutup Selat Hormuz yang vital.

“Kekerasan yang kembali terjadi ini menimbulkan keraguan lebih lanjut tentang masa depan perjanjian sementara AS-Iran yang ditandatangani bulan lalu yang bertujuan untuk membuka kembali selat tersebut dan mengakhiri perang setelah 60 hari negosiasi lebih lanjut,” tulis Ibrahim dalam risetnya.

Serangan tersebut merupakan yang terbaru dalam siklus serangan dan serangan balasan karena Iran berupaya untuk menegaskan kendali atas pelayaran melalui Selat Hormuz.

Namun, rentetan serangan tersebut menandai peningkatan kecepatan dan jangkauan. Serangan Iran meluas ke Qatar, mediator dalam pembicaraan gencatan senjata yang belum diserang sejak April.

Uni Emirat Arab, yang belum menjadi sasaran sejak awal Mei, mengatakan pertahanan udaranya telah mencegat rudal dan drone dari Iran.

AS membantah klaim Iran, dengan Presiden Donald Trump mengatakan pengiriman komersial melalui jalur air tersebut tetap terbuka di bawah perlindungan AS. Namun, aktivitas pengiriman melambat tajam selama akhir pekan, menambah kekhawatiran bahwa gangguan yang berkepanjangan dapat memperketat pasokan minyak global.

Selat Hormuz berfungsi sebagai jalur ekspor utama untuk minyak mentah dari Arab Saudi, Irak, Kuwait, Uni Emirat Arab, dan produsen Teluk lainnya.

Gangguan yang berkelanjutan dapat memaksa kilang minyak, terutama di Asia, untuk mencari pasokan alternatif dan mendorong biaya pengiriman dan asuransi lebih tinggi.

Prospek kenaikan harga energi yang berkelanjutan telah menghidupkan kembali kekhawatiran akan guncangan inflasi lainnya, memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve mungkin harus mempertahankan suku bunga tinggi untuk waktu yang lebih lama.

Risalah dari pertemuan Fed bulan Juni yang dirilis pekan lalu telah menunjukkan beberapa pembuat kebijakan percaya ada alasan untuk menaikkan suku bunga, sementara para pejabat secara umum menyatakan kekhawatiran yang lebih besar atas tekanan inflasi bahkan ketika kekhawatiran tentang pasar tenaga kerja mereda. Pertemuan Federal Reserve berikutnya dijadwalkan pada 28-29 Juli.

Dari sentimen domestik, Ibrahim menilai pasar merespon negatif terhadap dugaan mega korupsi yang menyeret mantan Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah serta konflik antara aparat penegak hukum berpotensi menimbulkan dampak serius terhadap perekonomian nasional.

“Kasus hukum yang terjadi saat ini bisa berdampak terhadap ekonomi. Pasalnya, hukum sebagai faktor lingkungan bisnis jelas sangat mempengaruhi kinerja ekonomi melalui perilaku ekonomi, efisiensi ekonomi, investasi maupun inovasi,” kata Ibrahim.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.100-Rp18.150 per dolar AS.

Editor: Puti Aini Yasmin

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut