Susul Jerman dan Prancis, Spanyol Masuk Resesi karena Ekonomi Minus 18,5 Persen

Djairan ยท Jumat, 31 Juli 2020 - 18:27 WIB
Susul Jerman dan Prancis, Spanyol Masuk Resesi karena Ekonomi Minus 18,5 Persen

Ekonomi Spanyol minus 18,5 persen pada kuartal II 2020. (Foto: AFP)

MADRID, iNews.id - Badan Statistik Nasional Spanyol (INE) mengumumkan pada Jumat (31/7/2020) ekonomi Negeri Matador tersebut minus 18,5 persen pada kuartal II 2020. Dengan begitu, Spanyol masuk jurang resesi setelah sebelumnya juga tercatat minus 5,2 persen pada kuartal I tahun ini.

Spanyol mengalami kontraksi bersejarah pada Produk Domestik Bruto (PDB) di kuartal II tahun ini. Negara tersebut telah tumbuh selama 24 kuartal berturut-turut sejak enam tahun terakhir, yang mulai pulih sepenuhnya dari krisis keuangan yang dirasakan pada 2008-2013 silam.

Penurunan tersebut dipicu oleh penerapan kebijakan lockdown Spanyol yang paling ketat di Eropa, lebih buruk dari yang diperkirakan para analis yaitu minus 16,6 persen. Kondisi saat ini menyeret Spanyol ke dalam resesi tertajam yang pernah ada. Spanyol selama ini bergantung pada sektor pariwisatanya yang menyumbang 12,3 persen dari output ekonominya.

“Sektor pariwisata merupakan yang sangat terpukul oleh pandemi Covid-19. Sedangkan di kuartal ketiga nanti, yang diharapkan menandai awal dari rebound ekonomi Spanyol, akan lebih lemah dari yang diperkirakan,” ujar kepala ekonom dari think tank Funcas Raymond Torres, dikutip dari Reuters Jumat (31/7/2020).

Pengeluaran swasta adalah faktor yang paling menyeret perekonomian negara tersebut, bersama dengan anjloknya investasi dan penurunan nilai ekspor. Pemerintah Spanyol sebelumnya juga telah memperkirakan akan adanya kontraksi 9,2 persen pada tahun 2020, namun masih optimis adanya pertumbuhan ekonomi 6,8 persen pada 2021.

Ekonomi Spanyol secara khusus dipengaruhi oleh krisis karena ukuran perusahaan di sana yang relatif kecil, yang membuat mereka lebih rentan dan kurang mampu merespons goncangan secara efektif. Asosiasi bisnis memperkirakan puluhan ribu perusahaan kecil dan menengah akan bangkrut sebelum akhir 2020.

Editor : Ranto Rajagukguk