UNCTAD: Perdagangan Dunia Mulai Pulih Jelang Akhir Tahun
JENEWA, iNews.id - Konferensi PBB tentang Perdagangan dan Pembangunan (UNCTAD) melaporkan nilai perdagangan dunia mulai pulih pada kuartal III tahun ini. Meski harus diakui nilai tersebut masih lebih rendah 4,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
"Nilai perdagangan dunia rebound perlahan jelang akhir tahun, perdagangan peralatan kantor, rumah, dan persediaan medis telah meningkat di kuartal III, pertumbuhan di sektor tekstil juga kuat, meskipun masih melemah di sektor otomotif dan energi," ujar juru bicara UNCTAD dikutip dari Reuters, Kamis (22/10/2020).
Dalam catatannya, badan antarpemerintah yang berbasis di Jenewa itu mengatakan, tidak ada negara yang terhindar dari penyusutan sekitar 19 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dalam perdagangan pada kuartal II 2020. Hal itu karena dampak pandemi Covid-19 yang mengganggu ekonomi global.
UNCTAD memperkirakan, nilai perdagangan dunia akan turun 7-9 persen pada 2020, meskipun ada tanda-tanda rebound pada kuartal III seperti yang mulai dirasakan China. Perkiraan awalnya, pertumbuhan perdagangan pada kuartal IV 2020 hanya menyusut 3 persen, namun ketidakpastian pasar tetap ada sebelum vaksin corona ditemukan.
Neraca Perdagangan Kembali Surplus 2,44 Miliar Dolar AS pada September 2020
China, negara dengan ekonomi besar yang memimpin pemulihan ekspor pada kuartal III setelah jatuh pada awal pandemi dan diperkirakan membukukan pertumbuhan ekspor hampir 10 persen tahun ini. Begitu pun dengan impor China, tercatat pulih setelah penurunan kuartal II 2020.
“Secara keseluruhan, tingkat ekspor China selama sembilan bulan pertama tahun 2020 sebanding dengan 2019 pada periode yang sama, ini berbeda dengan negara ekonomi besar lainnya,” kata UNCTAD.
Kebijakan lockdown yang diperketat akibat gelombang kedua corona menimbulkan risiko perdagangan dunia, sebab akan meredam rebound pada 2021. Awal bulan ini, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) meningkatkan perkiraan perdagangan barang karena melihat perbaikan sejak Juni, dengan prediksi penurunan 9,2 persen tahun ini.
Editor: Ranto Rajagukguk