Tutup Pidato di Sidang MPR, Ahmad Muzani Lempar Pantun Berisi Pesan Kerukunan
JAKARTA, iNews.id - Ketua MPR Ahmad Muzani menutup pidato kebangsaannya dalam Sidang Tahunan MPR RI serta Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI dengan cara yang unik.
Mengakhiri rangkaian agendanya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8/2026), Muzani membacakan bait-bait pantun yang tak hanya mencairkan suasana sidang, tetapi juga menyelipkan pesan mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia agar senantiasa menjaga persatuan dan menghentikan aksi saling menghujat.
“Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81. Bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Sekali merdeka, tetap! Merdeka! Sidang majelis saudara-saudara sekalian yang saya hormati. Sebelum tutup, kami izin diizinkan untuk membaca tiga buah pantun,” kata Muzani.
Pantun pertama yang dibacakannya berpesan untuk mewujudkan Indonesia sebagai negeri yang adil dan makmur. Lalu yang kedua, berpesan untuk kebijakan Presiden membuat Indonesia semakin menyala.
“Burung dara, burung merpati. Terbang tinggi ke langit timur. Kita optimis wujudkan negeri Indonesia berdaulat, adil, dan makmur,” katanya.
“Kuda Sumbawa, kuda terkuat. Dibuat lomba dapat piala. Kebijakan Presiden yang merakyat, menjadikan Indonesia semakin menyala,” sambung dia.
Kemudian, Muzani pun membacakan pantunnya yang terakhir. Dalam pantun itu, ia meminta seluruh rakyat Indonesia untuk tidak saling menghujat.
“Buah nangka, buah alpukat. Manis rasanya bikin terpikat. Ini pesan untuk seluruh rakyat, mari bersatu jangan saling menghujat,” pungkasnya.
Editor: Vitrianda Hilba Siregar