JAKARTA, iNews.id — Tren kenaikan harga emas dalam beberapa tahun terakhir mendorong minat masyarakat terhadap instrumen investasi yang dinilai tahan inflasi dan berfungsi sebagai aset lindung nilai. Melihat peluang tersebut, Bank Syariah Indonesia (BSI) meningkatkan literasi investasi emas, khususnya menyasar kalangan muda melalui pendekatan yang lebih sederhana dan terjangkau.
Direktur Finance & Strategy BSI Ade Cahyo Nugroho menyampaikan hal itu saat kuliah umum bertema investasi emas di Universitas Indonesia. Ia menekankan pentingnya generasi muda memahami investasi syariah sejak dini. “Anak-anak muda Indonesia harus didorong untuk mulai melek investasi syariah dengan cara yang mudah, aman, dan memiliki prospek yang baik,” ujarnya.
Menurutnya, BSI berupaya menghadirkan layanan bank emas yang mudah diakses, termasuk melalui aplikasi mobile banking. Investasi dapat dimulai dari nominal kecil, bahkan setara harga satu cangkir kopi. Selain itu, emas yang dibeli secara digital dapat ditransfer maupun dicetak dalam bentuk fisik sesuai kebutuhan nasabah.
Cahyo menjelaskan, emas di BSI tidak hanya berfungsi sebagai instrumen investasi, tetapi juga bagian dari ekosistem keuangan yang fleksibel. Nasabah dapat menabung emas, mencetaknya, hingga memanfaatkannya sebagai jaminan pembiayaan saat dibutuhkan. “Emas merupakan ekosistem yang unik di BSI,” katanya.
Hingga Februari 2026, BSI tercatat mengelola 22,5 ton emas dengan pertumbuhan nasabah bank emas mencapai 400 persen dalam setahun terakhir sejak layanan bullion diperkenalkan. Peningkatan ini mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap investasi emas yang dinilai likuid dan berpotensi memberikan keuntungan.
Melalui berbagai program kolaborasi dengan otoritas dan institusi pendidikan, BSI berharap literasi keuangan syariah terus meningkat. Upaya ini diharapkan mendorong generasi muda untuk mempersiapkan masa depan melalui perencanaan keuangan yang matang, termasuk dengan memulai investasi sejak dini.
Editor: Yudistiro Pranoto