BOGOR, iNews.id — Kekeringan melanda kawasan persawahan di Desa Weninggalih, Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kondisi lahan yang mengering dan retak terlihat di sejumlah areal persawahan pada Selasa (25/8/2026), ketika sebagian petani menghadapi ancaman kehilangan hasil panen akibat minimnya pasokan air.
Kondisi tersebut bukan persoalan baru pada musim kemarau tahun ini. Laporan pada 5 Juli 2026 menyebut puluhan hektare sawah di Desa Weninggalih mengalami gagal panen akibat kombinasi kekeringan dan serangan hama wereng. Produktivitas turun drastis. Dari lahan seluas 6.000 meter persegi yang biasanya menghasilkan sekitar 2 ton gabah, petani saat itu hanya memperoleh sekitar 60 kilogram.
Hingga Agustus, dampak kekeringan masih terasa di Weninggalih. Sumber air warga, termasuk sumur galian dan mata air utama, dilaporkan tidak lagi mengeluarkan air akibat kekeringan yang berlangsung panjang.
Secara nasional, kondisi kering tahun ini berkaitan dengan pengaruh El Nino yang berada pada kategori sangat kuat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat nilai indeks Nino3.4 pada dasarian II Agustus mencapai +2,99, meningkat dari +2,20 pada Juli. BMKG juga mencatat pengaruh Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang turut mendukung berkurangnya pasokan uap air ke Indonesia.
BMKG pada 24 Agustus menyebut sekitar 79,9 persen wilayah Indonesia atau 559 Zona Musim telah memasuki musim kemarau. Sebagian besar wilayah mengalami curah hujan rendah dan sifat hujan di bawah normal. Untuk periode 25–31 Agustus, kondisi kering masih diperkirakan berlanjut, termasuk di Pulau Jawa, meski hujan lokal dan sporadis masih mungkin terjadi.
(Foto: Yudistiro Pranoto)
Editor: Yudistiro Pranoto