JAKARTA, iNews.id - Rel kereta api di Sumatera Barat bukan sekadar sarana transportasi, melainkan bagian dari sejarah panjang yang membentuk perkembangan wilayah tersebut. Jalur yang dibangun sejak akhir abad ke-19 untuk mengangkut batu bara dari tambang Ombilin di Sawahlunto menuju Pelabuhan Emmahaven atau Teluk Bayur itu kini masih melayani mobilitas masyarakat, menghubungkan kawasan permukiman, pusat ekonomi, bandara, hingga destinasi wisata.
Hingga kini, Sumatera Barat memiliki sekitar 312,2 kilometer jalur rel, dengan sekitar 110,9 kilometer masih aktif beroperasi. Layanan seperti KA Pariaman Ekspres, KA Minangkabau Ekspres, KA Lembah Anai, serta kereta wisata Mak Itam menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan Sumatera Barat memiliki posisi unik dalam sejarah perkeretaapian nasional karena sejak awal rel berfungsi menghubungkan tambang, pelabuhan, kota, dan masyarakat. “Jejak itu tetap relevan untuk membaca kebutuhan konektivitas Sumatra hari ini,” ujarnya.
Peran kereta api masih terlihat kuat dari tingginya jumlah pengguna. Pada Januari–Mei 2026, layanan kereta api di Divre II Sumatera Barat melayani 913.674 pelanggan. Dalam lima tahun terakhir, jumlah pelanggan juga meningkat dari sekitar 1,09 juta pada 2021 menjadi 1,98 juta pelanggan pada 2025. KA Pariaman Ekspres menjadi layanan favorit karena menghubungkan kawasan permukiman, kampus, pusat kota, dan objek wisata pesisir.
Selain melayani penumpang, kereta api berperan mendukung distribusi industri. Selama Januari–Mei 2026, KAI mengangkut 492.220 ton semen dan klinker di wilayah Sumatera Barat. Angkutan berbasis rel membantu mengurangi beban kendaraan berat di jalan raya sekaligus menjaga kelancaran rantai pasok dari kawasan produksi menuju titik distribusi.
Di tengah rencana penguatan jaringan rel Sumatra dari Aceh hingga Lampung, Sumatera Barat dinilai memiliki peluang besar melalui reaktivasi sejumlah jalur nonaktif, termasuk lintas Kayu Tanam–Padang Panjang–Bukittinggi–Payakumbuh. Menurut Anne, sejarah rel di Sumatera Barat menunjukkan bahwa konektivitas bukan hanya soal transportasi, tetapi juga akses terhadap pertumbuhan ekonomi, pariwisata, dan kesempatan yang lebih merata bagi masyarakat.
Editor: Yudistiro Pranoto