1 Tahun Usia Pemerintahan, Mahathir: Saya Tak Lebih Buruk dari Donald Trump
PUTRAJAYA, iNews.id - Pemerintahan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad di bawah koalisi Pakatan Harapan mencapai usai 1 tahun, Rabu (9/5/2019).
Mahathir mengklaim koalisi pemerintahannya sudah melakukan banyak hal untuk Malaysia setahun terakhir.
Salah target yang dituju adalah mengembalikan Malaysia yang lama hadir lagi, meskipun ada ada saja pihak yan berusaha mengganggu.
"Kami tidak berkeliling teriak-teriak tentang pencapaian kami. Tidak ada yang mengharapkan kami untuk menang. Mereka mengatakan koalisi ini rapuh dan akan pecah. Tapi kami selalu bersama, bekerja sama, dan bersatu. Kami memiliki satu tujuan, membawa kembali Malaysia yang kami kenal," tuturnya, dikutip dari The Star.
Mahathir melanjutkan, pencapaian lain adalah gagalnya upaya untuk membuatnya mundur sebagai perdana menteri. Ada pihak yang pernah memintanya mengundurkan diri, namun kemudian berubah.
Dia menguraikan pencapaian lain, seperti kinerja kabinet, meskipun banyak dari menterinya yang belum berpengalaman. Dalam kondisi itu, jajaran pemerintahan berhasil menegosiasi ulang kontrak East Coast Rail Link demi menyelamatkan uang 30 miliar ringgit dari hal mubazir.
Prestasi lain, kata Mahathir, memperbaiki birokrasi demi memberikan pelayanan lebih baik kepada masyarakat.
“Tujuan pertama yang kami capai adalah membersihkan pemerintah. Saat ini, tidak banyak orang lagi yang mengeluhkan tuntutan (dari pejabat pemerintah) soal pembayaran (pungli) dan semua itu. Masyarakat bisa mendapatkan izin lebih cepat," tuturnya.
Lebih lanjut Mahathir juga menyinggung warisan masalah yang diberikan pemerintahan sebelumnya. Dia mencoba menyelesasikan masalah-masalah itu secara perlahan, salah satunya utang luar negeri yang membengkak.
“Mereka meminjam uang miliaran, menghukum orang karena tidak mendukung mereka. Menggeser, mencabut pekerjaan mereka dan semua itu. Inilah orang-orang yang mengkritik kami. Kami telah menghapus cukup banyak orang seperti ini. Kami punya bukti tentang mereka," katanya.
Mahathir juga menyinggung buruknya penegakan hukum warisan masa lalu sebagai tantangan lain dalam pemerintahan satu tahun.
“Tidak ada aturan hukum sebelumnya, di mana orang bisa ditahan di bawah tuduhan serius. Sekarang, setiap tuduhan harus diajukan ke pengadilan. Kami menerima pemisahan kekuasaan kehakiman dan eksekutif," ujarnya.
Hal lain yang menjadi perhatian pemerintahannya adalah menghilangkan budaya 'gratis' di Malaysia. Dia menyesalkan masih banyak masyarakat yang mendukung pemerintahan sebelumnya karena program sosial bagi-bagi uang. Menurut Mahathir, mendapatkan dukungan melalui pembagian uang bukan pendidikan politik yang baik.
“Pemerintah sebelumnya memberikan uang kepada semua kalangan. Para nelayan mendapat bayaran bulanan 300 ringgit meskipun mereka tidak menangkap ikan. Jomblo mendapat 450 ringgit. Di bawah BR1M, mereka bisa mendapat lebih banyak lagi," ujar pria yang berpengalaman puluhan tahun menjadi perdana menteri itu.
“Jika kita melanjutkan program itu, kita seperti menyuap dukungan. Kami tidak dapat melakukan itu karena tidak memiliki uang, karena kami tidak mencuri. Mereka kemudian menjadi kesal. Terakhir kali mereka mendapat 450 ringgit, tetapi sekarang hanya 100 ringgit. Itu sebabnya dukungan untuk Pakatan Harapan berkurang," keluhnya.
Mahathir memberi saran agar masyarakat Malaysia memperbaiki kondisi hidup dengan berpikir out of the box.
“Anda memiliki 2 hektare tanah dan Anda menanam kelapa sawit dan berharap menjadi jutawan. Tanyakan kepada petani padi, ketika Anda menanam padi dan tidak ada yang lain, petani padi akan sangat miskin karena tidak dapat mencari nafkah hanya dengan menanam padi. Kami ingin bertani secara pintar. Kami punya banyak ide tetapi butuh waktu. Negara ini mengimpor 60 miliar ringgit makanan setiap tahun yang sebagian besar sebenarnya bisa ditanam di sini, tapi kita tidak melakukannya," tuturnya.
Dia juga membantah klaim bahwa Pakatan Harapan hanya membungkus ulang ide-ide pemerintah Barisan Nasional yang dulu dipimpin Najib Razak.
“Kami melakukan hal-hal dengan cara yang tepat. Kami melakukan apa yang perlu dilakukan dan sesuai dengan tanggung jawab kami sebagai pemerintah, tanpa korupsi dan kronisme. Saya tidak berpikir bahwa saya lebih buruk dari Donald Trump dan para pemimpin Inggris atau para pemimpin Prancis yang harus berurusan dengan 'rompi kuning'."
Mahathir melanjutkan, Malaysia punya masalah yang banyak dan harus diselesaikan. Untuk itu diperlukan kepemimpinan yang baik untuk mengatur pemerintahan.
Di sisi lain, Mahathir mnegaskan akan memenuhi janji untuk menyerahkan tongkat estafet kepada Presiden Partai Keadilan Rakyat (PKR) Anwar Ibrahim tanpa syarat.
Namun, Mahathir tidak mengungkap kapan akan menyerahkan posisinya kepada Anwar.
Editor: Anton Suhartono