15 Tuntutan AS vs Iran Terungkap: Syarat Damai Bertolak Belakang, Mungkinkah Deal atau Buntu?
WASHINGTON, iNews.id - Perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran belum menunjukkan tanda-tanda segera berakhir, meski jalur diplomasi mulai dibuka. Presiden AS Donald Trump telah mengajukan rencana damai 15 poin, sedangkan Iran juga mengajukan tuntutan tandingan yang tidak kalah keras.
Pertanyaannya, apakah AS dan Iran akan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang atau justru akan terus buntu?
Trump mengajukan rencana damai yang disebut berisi 15 poin, mencakup tuntutan dan tawaran dari AS serta Israel untuk mengakhiri perang yang sedang berlangsung dengan Iran. Rencana tersebut disampaikan kepada Iran melalui Pakistan, yang menyatakan kesiapan menjadi tuan rumah pembicaraan damai pekan ini.
Trump mengatakan, Washington dan Teheran telah melakukan pembicaraan yang sangat baik dan produktif untuk mengakhiri perang pada minggu ini. Namun, Iran secara konsisten membantah ada pembicaraan dengan AS. Para pemimpin Iran bahkan menyebut AS sedang bernegosiasi dengan dirinya sendiri.
Dubes Saudi Kecam Serangan Iran ke Negara Teluk: Disiapkan untuk Picu Permusuhan!
Sementara perang yang dilancarkan AS dan Israel sejak 28 Februari saat negosiasi dengan Iran masih berlangsung, telah menimbulkan biaya besar. Perang ini mengguncang pasar energi dan saham global, mengganggu jalur pelayaran, serta menimbulkan korban jiwa di seluruh Timur Tengah. Data Kementerian Kesehatan Iran, hingga Selasa, 24 Maret 2026, sebanyak 1.500 orang dilaporkan tewas di Iran saja dan 18.551 lainnya terluka.
Beberapa hari setelah serangan dimulai, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengumumkan penutupan Selat Hormuz untuk pelayaran. Sejak itu, mereka mulai mengizinkan sejumlah kecil kapal yang disetujui untuk melintas, terutama berbendera India, Pakistan, dan China. Situasi ini, ditambah serangan Iran terhadap aset militer AS dan infrastruktur energi di kawasan Teluk, mengakibatkan harga minyak melonjak di atas 100 dolar AS per barel, dibandingkan harga sebelum perang untuk minyak mentah Brent sekitar 65 dolar AS.
AS Dilaporkan Kirim Ribuan Pasukan Terjun Payung ke Timur Tengah, Siap Serbu Iran?
Setelah laporan mengenai rencana gencatan senjata 15 poin dari pemerintahan Trump muncul pada Rabu lalu, harga saham global sedikit naik sementara harga minyak turun tipis. Namun, para pengamat menilai masih belum jelas apakah pembicaraan benar-benar terjadi. Kalaupun memang terjadi, kedua pihak belum tentu mencapai kesepakatan karena tuntutan mereka masih sangat berjauhan.
AS mengirimkan rencana damai 15 poin kepada Iran melalui Pakistan. Inti dari rencana ini adalah gencatan senjata selama satu bulan, sebagai jeda untuk membuka ruang negosiasi lebih lanjut mengenai akhir perang.
Bela Iran, Kim Jong Un Sebut AS Negara Teroris Agresor Singgung Senjata Nuklir
Namun, di balik tawaran damai itu, terdapat sejumlah tuntutan yang sangat rinci dan menyasar hampir seluruh aspek kekuatan strategis Iran.
JK Kunjungi Sejumlah Negara ASEAN, Bahas Perang AS-Israel vs Iran?
Dilansir dari Al Jazeera, Kamis (26/3/2026), beberapa poin utama dari 15 butir rencana perdamaian yang digagas Trump, di antaranya:
1. Gencatan senjata selama 30 hari.
2. Pembongkaran fasilitas nuklir Iran di Natanz, Isfahan, dan Fordow.
3. Komitmen permanen Iran untuk tidak pernah mengembangkan senjata nuklir.
4. Penyerahan stok uranium Iran yang telah diperkaya kepada Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), serta komitmen Iran untuk mengizinkan IAEA memantau seluruh elemen infrastruktur nuklir yang masih tersisa. Iran juga diwajibkan menghentikan pengayaan uranium di dalam negeri.
5. Pembatasan jangkauan dan jumlah rudal Iran.
6. Penghentian dukungan Iran terhadap kelompok proksi di kawasan Timur Tengah, yakni Hamas di Gaza, Hizbullah di Lebanon, dan Houthi di Yaman.
7. Penghentian serangan Iran terhadap fasilitas energi regional.
8. Pembukaan kembali Selat Hormuz.
9. Sebagai balasannya, AS menawarkan mencabut seluruh sanksi terhadap Iran, serta penghentian mekanisme Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang memungkinkan sanksi diberlakukan kembali.
10. AS akan mendukung pembangkitan listrik di pembangkit nuklir sipil Iran di Bushehr.
Dengan kata lain, tuntutan AS tidak hanya menyasar program nuklir, tetapi juga kekuatan militer, pengaruh regional, hingga kontrol Iran atas jalur energi global.
Di sisi lain, Iran juga memiliki daftar tuntutan yang menjadi syarat mutlak untuk mengakhiri konflik.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada 11 Maret menegaskan, perdamaian hanya dapat tercapai jika hak sah Iran diakui. Pernyataan ini merujuk pada hak Iran untuk mempertahankan kedaulatan, termasuk dalam pengembangan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Selain itu, Iran menuntut pencabutan seluruh sanksi ekonomi yang selama ini membatasi sektor minyak, perdagangan, dan keuangan negara tersebut. Bagi Teheran, tanpa penghapusan sanksi, tidak ada dasar untuk membahas perdamaian.
Iran juga meminta pembayaran ganti rugi atas kerusakan yang ditimbulkan oleh serangan AS dan Israel selama perang berlangsung. Tuntutan ini menunjukkan bahwa Iran tidak melihat dirinya sebagai pihak yang harus mengalah, melainkan sebagai pihak yang dirugikan.
Selanjutnya, Iran menuntut ada jaminan internasional yang kuat untuk mencegah serangan di masa depan. Artinya, AS dan sekutunya harus memberikan komitmen bahwa agresi militer terhadap Iran tidak akan terulang.
Selain tuntutan resmi tersebut, sejumlah pejabat Iran juga menyampaikan syarat tambahan. Di antaranya adalah penutupan seluruh pangkalan militer AS di kawasan, yang selama ini dianggap sebagai ancaman langsung terhadap keamanan Iran.
Iran juga disebut menginginkan mekanisme hukum baru untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz, yang pada praktiknya akan memperkuat dominasi Iran atas jalur strategis tersebut.
Namun, di dalam negeri Iran sendiri terdapat perbedaan pendekatan. Pemerintahan sipil di bawah Pezeshkian menunjukkan sinyal terbuka terhadap negosiasi jika syarat-syarat tersebut dipenuhi. Sebaliknya, IRGC memandang perang ini sebagai perjuangan eksistensial dan cenderung menolak kompromi.
Jika dilihat secara langsung, tuntutan AS dan Iran berada di dua kutub yang berlawanan. AS menuntut pembatasan besar-besaran terhadap kemampuan nuklir dan militer Iran, serta pengurangan pengaruhnya di kawasan. Sebaliknya, Iran justru menuntut pengakuan atas hak-haknya, pencabutan tekanan internasional, serta jaminan keamanan.
Dengan perbedaan sejauh ini, banyak pengamat menilai negosiasi akan sangat sulit mencapai titik temu tanpa kompromi besar dari salah satu pihak. Meski begitu, sinyal komunikasi belum sepenuhnya tertutup. Laporan menyebut ada pendekatan tidak langsung antara AS dan Iran, meski belum berkembang menjadi negosiasi formal.
Tekanan ekonomi global, lonjakan harga energi, serta dinamika politik di masing-masing negara menjadi faktor yang mendorong kedua pihak untuk setidaknya mempertimbangkan jalur diplomasi.
Namun hingga kini, dengan daftar tuntutan yang sama-sama keras dan saling bertolak belakang, peluang kesepakatan AS dan Iran masih belum jelas. Apakah akan berujung pada deal, atau justru tetap buntu di tengah konflik yang masih memanas.
Editor: Maria Christina