32.000 Orang di Inggris Meninggal terkait Covid-19, Tertinggi di Eropa
LONDON, iNews.id – Lebih dari 32.000 orang di Inggris meninggal terkait dengan wabah virus corona (Covid-19). Ini menjadi jumlah resmi kematian tertinggi terkait corona yang pernah dilaporkan di Eropa, menurut data yang dirilis pada Selasa (5/5/2020).
Kantor Statistik Nasional Inggris menyatakan, 29.648 kematian terjadi di Inggris dan Wales dengan Covid-19 disebutkan dalam surat kematian orang-orang itu.
Jika dimasukkan data dari Skotlandia dan Irlandia Utara, jumlah resmi kematian terkait Covid-19 di Inggris Raya mencapai 32.313 jiwa. Angka itu lebih tinggi dibandingkan Italia, negara yang sebelumnya paling menderita akibat wabah corona di Eropa, meski jumlah kematiannya tidak mencakup kasus dugaan.
Para menteri di Inggris tidak menyukai perbandingan jumlah kematian. Menurut mereka, kematian berlebihan, yaitu jumlah kematian dari seluruh penyebab di atas rata-rata tahun ini, merupakan barometer yang lebih berarti.
Sejumlah penelitian di Inggris membuktikan bahwa sebagian besar orang yang mengidap virus corona (Covid-19) mengembangkan antibodi di dalam tubuh mereka. Akan tetapi, masih terlalu dini untuk menyebut antibodi itu mampu memberikan kekebalan pada mereka.
“Mayoritas orang yang terinfeksi Covid-19 sejauh ini, menelepon kembali bahwa mereka telah mendapat antibodi di dalam aliran darah mereka,” ujar Wakil Kepala Medis Inggris, Jonathan Van-Tam, saat konferensi pers harian di London, Senin (4/5/2020) waktu setempat, dikutip Reuters.
“Secara umum, orang-orang itu mendapat antibodi. Pertanyaan selanjutnya yaitu, apakah antibodi itu melindungi mereka dari infeksi lebih lanjut. Dan kita belum memiliki waktu cukup lama meneliti penyakit ini untuk mengetahui jawaban pastinya,” tuturnya.
Data yang dihimpun laman Worldometer menunjukkan, sudah ada 3.660.829 penduduk dunia terinfeksi virus corona sampai petang ini. Dari jumlah itu, 252.682 orang di antaranya meninggal dunia. Sementara, 1.204.210 orang dinyatakan sembuh dari wabah asal Wuhan, China itu.
Editor: Ahmad Islamy Jamil