904 Tentara Israel Tewas sejak Perang di Gaza
TEL AVIV, iNews.id - Jumlah korban tewas di pihak militer Israel terus bertambah sejak serangan pasukan Zionis ke Jalur Gaza pada 7 Oktober 2023. Data terbaru Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengungkap, total 904 tentara Zionis tewas dan hampir 10.000 luka dalam pertempuran melawan Hamas dan kelompok perlawanan Palestina lainnya hingga Senin (8/9/2025).
Sekitar setengah dari jumlah itu tewas dalam serangan darat di Jalur Gaza. Israel memulai operasi serangan darat ke Gaza pada 27 Oktober 2023.
Korban terbaru adalah empat tentara Israel yang tewas dalam serangan mendadak Hamas ke sebuah kamp militer di pinggiran Kota Gaza pada Senin kemarin. Keempatnya merupakan anggota pasukan elite Batalion ke-52 Brigade Lapis Baja ke-401.
Serangan di Pintu Masuk Kamp
4 Pasukan Elite Israel Tewas, Hamas Berikan Perlawanan Sengit di Kota Gaza
Menurut surat kabar Israel Yedioth Ahronoth, tiga pejuang Hamas melancarkan serangan ke arah kamp di daerah Kafr Jabalia, dekat permukiman Sheikh Radwan. Serangan terjadi sekitar pukul 06.00 waktu setempat, tak lama setelah pasukan Zionis selesai berpatroli malam.
Para pejuang menembak komandan tank yang sedang berada di luar kendaraan, lalu melemparkan bahan peledak ke dalam tank. Ledakan itu menewaskan empat tentara di lokasi.
Hamas Serbu Kamp Militer Israel di Kota Gaza, 4 Tentara Zionis Tewas
Serangan Balasan Belum Redakan Kerugian Israel
Meski Israel terus meningkatkan serangan udara dan operasi darat di Gaza, angka korban tewas di pihak tentaranya menunjukkan bahwa perlawanan Hamas masih kuat. Serangan gerilya yang menargetkan tank dan pos militer membuat IDF kewalahan.
Meningkatnya jumlah korban memicu tekanan politik terhadap pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Banyak kalangan oposisi menilai operasi darat di Gaza tidak memberikan hasil signifikan selain menambah korban di pihak Israel.
Sementara itu, Hamas menyebut serangan terhadap kamp militer tersebut sebagai bukti bahwa perlawanan di Gaza tidak akan padam meski wilayah itu dibombardir dan dikepung.
Editor: Anton Suhartono