Akui Dataran Tinggi Golan Milik Israel, AS Bakal Makin Dikucilkan
DAMASKUS, iNews.id - Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Suriah Walid Al Moallem menyebut keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang mengakui Dataran Tinggi Golan sebagai wilayah Israel tidak akan berdampak apa pun.
Aktivitas di Golan akan tetap berlangsung seperti biasa. Golan kini ditinggali rakyat Suriah. Status Golan akan tetap seperti sebelumnya berdasarkan resolusi PBB.
Al Moallem justru menekankan, pengakuan Trump itu hanya akan membuat AS semakin terkucil.
"Keputusan Amerika Serikat tak akan berpengaruh apa-apa, kecuali pengucilan AS," kata Al Moallem, dikutip dari kantor berita SANA, Selasa (26/3/2019).
Sementara soal rencana selanjutnya setelah pengakuan tersebut, Al Moallem mengatakan tak seorang pun bisa menembak apa yang dilakukan AS selaku perompak.
Sikap ini, lanjut dia, juga semakin menunjukkan kesewenang-wenangan AS atas wilayah pendudukan Israel. Ini bukan kali pertama AS memberikan pengakua sepihak. Pada Desember 2017, AS menyebut Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Apa yang dilakukan pemerintahan AS ini justru semakin membuat situasi di Timur Tengah tak stabil.
"Dia dan pemerintahnya telah membuktikan mereka adalah penyebab ketidakstabilan dan faktor hegemoni atas masyarakat internasional. Dia telah memulai dengan Al-Quds (Jerusalem), tapi di sini mengenai Dataran Tinggi Golan. Dia tak bisa melakukan apa-apa, sebab tanah itu adalah miliki rakyatnya," katanya.
Suriah menekankan penolakan tegas terhadap keputusan Donald Trump yang mengakui pencaplokan Dataran Tinggi Golan dan mengatakan tindakan tersebut merupakan penghinaan tingkat paling tinggi terhadap keabsahan internasional.
Seperti diketahui, Trump menandatangani dekrit yang mengakui kedaulatan Israel atas Dataran Tinggi Golan pada Senin malam (WIB). Golan merupakan wilayah Suriah yang diduduki Israel sejak 1967.
Editor: Anton Suhartono