Ancam Putus 7 Kabel Internet Bawah Laut di Selat Hormuz, Iran: Target Baru!
TEHERAN, iNews.id - Iran mengancam akan memutus tujuh kabel internet bawah laut yang membentang di dasar Selat Hormuz. Ancaman ini membuka kemungkinan Teheran menggunakan infrastruktur komunikasi digital sebagai senjata baru dalam perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Juru Bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran, Hossein Mohebbi, memperingatkan bahwa target baru akan segera diungkapkan. Dia mengeklaim tujuh kabel internet utama di Selat Hormuz menjadi jalur penting bagi lalu lintas data internet dan komersial.
“Tujuh kabel internet utama membentang di bawah Selat Hormuz,” kata Mohebbi, seperti dikutip dari stasiun televisi pemerintah Iran, IRIB, Rabu (21/10/2026).
“Kami hanya ingin mereka tahu bahwa target baru akan diungkapkan. Senjata baru akan diungkapkan,” ujarnya.
Ancaman tersebut menambah daftar infrastruktur yang berpotensi menjadi sasaran militer Iran jika konflik kembali meningkat. Sebelumnya, pejabat senior keamanan Iran juga memperingatkan kemungkinan serangan terhadap kabel internet bawah laut, pusat data, hingga fasilitas kecerdasan buatan (AI) yang terkait dengan AS.
Mohebbi juga bersumpah akan mengusir sisa-sisa kekuatan AS yang masih berada di kawasan tersebut.
Iran Pertimbangkan Serang Infrastruktur Digital AS
Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, sebelumnya menyatakan militer Iran dapat mempertimbangkan infrastruktur digital sebagai sasaran apabila perang kembali berkobar.
Infrastruktur yang disebut mencakup kabel internet bawah laut, pusat data, dan fasilitas AI yang terkait dengan AS.
“Kami belum memasukkan aset-aset ini ke dalam target,” kata Rezaei, seraya memperingatkan bahwa infrastruktur tersebut mudah dihancurkan jika konflik berlanjut.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ancaman Iran tidak hanya menyasar aset militer konvensional, tetapi juga infrastruktur digital yang menopang komunikasi dan layanan berbasis teknologi.
Namun, belum ada konfirmasi bahwa Iran telah memutus atau menyerang ketujuh kabel internet yang dimaksud.
Selat Hormuz Jadi Titik Strategis
Ancaman terhadap kabel internet bawah laut muncul di tengah perang Iran melawan AS dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026. Hingga Selasa (20/10/2026), konflik belum berakhir dan belum terlihat tanda-tanda kedua pihak kembali ke meja perundingan.
Sejak perang pecah, Iran memblokade Selat Hormuz sehingga membatasi lalu lintas kapal tanker dan kapal kargo yang melintasi jalur perairan strategis tersebut.
Selat Hormuz menjadi titik penting dalam konflik karena jalur ini merupakan salah satu koridor utama perdagangan energi dunia. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut dapat berdampak pada distribusi minyak dan gas internasional.
Iran dan AS juga sama-sama mengeklaim memiliki kendali atas jalur perairan tersebut.
Kini, ancaman terhadap kabel internet bawah laut berpotensi memperluas dimensi konflik, dari perebutan kendali jalur pelayaran menjadi ancaman terhadap infrastruktur komunikasi digital.
Jika kabel-kabel tersebut benar-benar diserang, dampaknya akan bergantung pada lokasi kerusakan, kapasitas jaringan alternatif, dan jalur data yang terdampak. Gangguan pada kabel bawah laut dapat memperlambat konektivitas internet serta mengganggu komunikasi dan layanan digital yang bergantung pada jaringan internasional.
Meski demikian, ancaman Iran belum berarti seluruh koneksi internet di kawasan atau dunia akan terputus. Besarnya dampak baru dapat dipastikan jika diketahui kabel mana yang rusak, tingkat kerusakannya, serta ketersediaan jalur pengganti.
Editor: Anton Suhartono