Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Iran Peringatkan Kapal-Kapal Lintasi Selat Hormuz: Banyak Ranjau!
Advertisement . Scroll to see content
Advertisement . Scroll to see content

Wibawanto Nugroho Widodo, Ph.D
Pakar Geopolitik dan Keamanan Nasional

DALAM membaca dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran, penting untuk memahami bahwa setiap pembicaraan mengenai perjanjian bukanlah sekadar soal diplomasi formal, melainkan hasil tarik-menarik kepentingan strategis, tekanan domestik, dan kalkulasi militer yang kompleks. 

Jika disusun dalam 10 poin utama yang sering muncul dalam wacana perjanjian, maka dapat terlihat dengan cukup jelas, mana yang realistis untuk disepakati, mana yang masih berada di wilayah kompromi sulit, dan mana yang hampir mustahil terwujud dalam waktu dekat.

Poin-poin yang paling realistis biasanya berkisar pada langkah-langkah de-eskalasi terbatas, seperti penghentian serangan langsung, mekanisme komunikasi militer untuk mencegah salah perhitungan, serta pelonggaran sanksi secara parsial sebagai imbalan atas pembatasan aktivitas tertentu. Ini adalah bentuk “transaksi minimum” yang tidak mengubah struktur konflik, tetapi cukup untuk menurunkan intensitasnya. Dalam konteks ini, kedua pihak tidak perlu mengorbankan posisi ideologisnya secara signifikan.

Di sisi lain, terdapat poin-poin semi realistis yang sering menjadi inti negosiasi namun sulit dicapai secara penuh, seperti pembatasan program nuklir Iran secara komprehensif, transparansi penuh terhadap inspeksi internasional, serta pengurangan dukungan Iran terhadap kelompok proksi di kawasan. Bagi Iran, isu ini menyangkut kedaulatan dan strategi deterrence; sementara bagi Amerika Serikat dan sekutunya, ini adalah inti dari keamanan regional. Karena itu, kesepakatan di wilayah ini biasanya bersifat parsial, ambigu, dan penuh celah interpretasi.

Adapun poin-poin yang tidak realistis dalam jangka pendek mencakup normalisasi hubungan penuh antara kedua negara, penghentian total program misil balistik Iran, atau perubahan fundamental dalam orientasi geopolitik Iran. Tuntutan-tuntutan seperti ini bertabrakan langsung dengan identitas politik rezim dan keseimbangan kekuatan di kawasan, sehingga lebih bersifat retorika daripada agenda negosiasi nyata.

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut