Anwar Ibrahim Tolak Putuskan Hubungan Malaysia dengan AS, Singgung Ketergantungan Ekonomi
KUALA LUMPUR, iNews.id - Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menegaskan seruan untuk memutus hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat (AS) tidak tepat dan berpotensi merugikan rakyat. Hal itu disampaikan Anwar menyusul derasnya desakan untuk memutus hubungan dengan AS terkait dukungannya kepada Israel dalam membantai warga Palestina.
Bukah hanya itu, mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad juga mendesak Anwar untuk membatalkan undangan untuk Presiden AS Donald Trump ke KTT ASEAN di Kuala Lumpur pada bulan depan.
Mahathir menilai kehadiran Trump tidak pantas karena sikapnya yang terang-terangan mendukung Israel dalam agresi ke Jalur Gaza. Menurut Mahathir, Washington telah menjadi penopang utama mesin perang Israel dengan dana, senjata, dan bantuan militer yang digunakan untuk menyerang warga sipil Palestina.
Namun, Anwar menolak langkah konfrontatif tersebut. Dia menekankan Malaysia tetap akan menyuarakan dukungan penuh bagi rakyat Palestina, namun hubungan diplomatik dengan AS harus dijaga demi kepentingan strategis dan ekonomi.
“Malaysia telah berterus terang membela Palestina, tapi di saat yang sama kita memanfaatkan jalur diplomatik. Kita bebas bersuara karena kita bangsa merdeka dan bermartabat. Namun, kita juga harus bijak dalam menjalin persahabatan,” kata Anwar, dikutip dari Bernama, Senin (29/9/2025).
Lebih lanjut, Anwar menyebut bahwa pemutusan hubungan dengan AS akan berdampak langsung pada sektor ekonomi, khususnya industri berteknologi tinggi.
“Ekspor semikonduktor Malaysia ke Amerika Serikat saja mencapai miliaran ringgit. Puluhan ribu warga Malaysia bekerja di sektor ini. Jika kita menolak hubungan secara langsung, rakyat yang akan menderita,” ujarnya.
Menurut Anwar, hubungan dengan AS tidak hanya soal politik, tapi juga kesejahteraan rakyat. Negosiasi dengan Washington, katanya, tetap penting agar ada ruang untuk mendorong perubahan dalam isu-isu global, termasuk Palestina.
KTT ASEAN pada 26–28 Oktober mendatang diperkirakan menjadi salah satu pertemuan tingkat tinggi terbesar di kawasan. Selain Trump, setidaknya tiga pemimpin dunia lain dijadwalkan hadir.
Editor: Anton Suhartono