Apa Dampaknya jika Trump Akui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel?
AMMAN, iNews.id – Yordania selaku presiden pertemuan negara-negara Arab mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi terkait rencana pengumuman Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengenai status Yerusalem. Trump dilaporkan akan menyampaikan pidatonya pada Rabu mendatang.
Yordania sudah memulai rapat konsultasi untuk kemudian menggelar pertemuan darurat negara-negara Liga Arab dan Organisasi Kerjasama Islam (OKI) sebelum Rabu mendatang.
Jika Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel maka tensi di Timur Tengah dipastikan akan semakin memanas.
Seorang diplomat senior Yordania mengatakan, pertemuan itu akan membahas dampak yang akan terjadi jika Trump mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
"Ini akan menghambat semua upaya damai yang sudah diperjuangkan serta menempatkannya dalam posisi yang sangat berisiko, yang dapat memprovokasi negara Arab dan mayoritas Muslim serta komunitas Muslim di negara Barat," kata dilplomat yang meminta namanya tidak disebutkan itu, dikutip dari Reuters, Senin (4/12/2017).
Yerusalem merupakan kota yang sensitif. Itulah makanya presiden-presiden AS sebelumnya lebih memilih bahwa status Yerusalem harus diputuskan melalui pembicaraan damai.
Warga Palestina menginginkan Yerusalem Timur menjadi ibu kotanya di masa depan, begitu dunia mengakui Palestina sebagai negara berdaulat. Apalagi komunitas internasional tidak mengakui Israel sebagai pemilik sah kota yang dianggap suci oleh tiga agama itu, yakni Islam, Kristen, dan Yahudi.
Yordania kehilangan Yerusalem Timur dan Tepi Barat setelah direbut Israel dalam perang Arab-Israel pada 1967. Namun status Yerusalem tetap harus dibahas dalam pembicaraan berikutnya.
"Adalah penting bahwa tidak ada keputusan sepihak yang dibuat yang akan mengubah status quo Yerusalem sebagai kota yang diduduki. Nasibnya harus ditentukan dalam perundingan dalam paket perdamaian secara keseluruhan," kata diplomat itu.
Editor: Anton Suhartono