Armenia Sepakat Damai dengan Azerbaijan, Demonstran: Nikol Pashinyan Pengkhianat!
YEREVAN, iNews.id - Gelombang unjuk rasa makin besar di Armenia menyusul kesepakatan damai dengan Azerbaijan yang diteken Perdana Menteri Nikol Pashinyan. Demonstran mengejek Pashinyan serta mendesaknya segera mundur.
Ratusan pengunjuk rasa berkumpul di pusat kota Yerevan, Rabu (11/11/2020) siang waktu setempat. Mereka meneriakkan kecaman dan ejekan "Nikol (Pashinyan) adalah pengkhianat!" serta menekan Pashinyan agar turun dari jabatannya.
Aksi demonstrasi kemudian dibubarkan oleh polisi dan militer, bahkan beberapa demonstran ditangkap karena dianggap sebagai penggagas aksi.
Demonstrasi jalanan dilarang di bawah darurat militer yang diberlakukan oleh Armenia karena pertempuran dengan Azerbaijan di Nagorno-Karabakh.
Armenia Sepakat Damai dengan Azerbaijan Picu Kemarahan Pejuang, Hancurkan Gedung Pemerintah
Belasan parpol agendakan demo lebih besar
Azerbaijan Rebut Kota Kunci Karabakh dari Armenia
Namun demikian, Reuters melaporkan 17 partai politik menjadwalkan aksi unjuk rasa lebih besar pascagencatan senjata dengan Azerbaijan yang ditandatangani oleh PM Pashinyan.
Armenia dan Azerbaijan menyepakati penghentian perang secara total di wilayah Nagorno-Karabakah, Selasa (10/11/2020) pagi waktu setempat. Kesepakatan tersebut turut melibatkan Rusia dan Turki--sekutu Azerbaijan.
Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, menyebut Armenia tak punya pilihan selain menyerah dan menandatangani kesepakatan damai tersebut.
"Sebuah tangan besi memaksanya untuk menandatangani dokumen ini. Pada dasarnya, ini adalah kapitulasi (pernyataan kalah perang)," kata Aliyev dikutip dari AFP.
Penjelasan PM Pashinyan mengenai kesepakatan damai
Sementara itu, Perdana Menteri Armenia, Nikol Pashinyan, mengatakan pihaknya telah mempertimbangkan secara matang mengikuti kesepakatan tersebut.
Pashinyan menilai gencatan senjata penuh dengan Azerbaijan sebagai opsi terbaik bagi dua negara berkonflik.
"Saya telah menandatangani pernyataan dengan Presiden Rusia dan Azerbaijan untuk penghentian perang Nagorno-Karabakh," kata Pashinyan.
Perang Armenia-Azerbaijan yang telah berlangsung sejak 27 September telah menewaskan setidaknya lebih dari 1.000 orang dan memaksa ribuan penduduk mencari perlindungan.
Editor: Arif Budiwinarto