AS Bakal Jamin Keamanan Ukraina sampai Bergabung NATO, Pembicaraan Dimulai
KIEV, iNews.id - Ukraina dan Amerika Serikat (AS) akan memperdalam kerja sama pertahanan. Pejabat Ukraina memulai konsultasi dengan AS pekan ini untuk membahas jaminan keamanan bagi negaranya sambil menunggu keanggotaan NATO.
"Kami memulai pembicaraan dengan Amerika Serikat pekan ini," kata Andriy Yermak, kepala staf kepresiden Ukraina, di Telegram, seperti dilaporkan kembali Reuters, Senin (31/7/2023).
Jaminan keamanan bagi negaranya, lanjut Yermak, akan sangat konkret. Ini bisa memastikan kemampuan Ukraina dalam mencegah atau menahan agresi Rusia di masa mendatang.
"Ini akan menjadi format dan mekanisme dukungan yang dirancang dengan jelas. (Jaminan keamanan) Akan berlaku sampai Ukraina mendapat keanggotaan di NATO," tuturnya.
Putin Akan Datangkan 30 Kapal Perang Tahun Ini, Ukraina Ketar-Ketir?
Pembicaraan tentang jaminan keamanan dengan AS merupakan tindak lanjut dari janji anggota G7 yang disampaikan di KTT NATO Lituania awal bulan ini. Dalam KTT NATO itu, G7 menawarkan bantuan kepada Ukraina dalam melawan invasi Rusia dengan masing-masing negara menjanjikan pasokan senjata baru.
Anggota G7 juga setuju untuk merundingkan perjanjian guna memberikan jaminan keamanan dan membantu Ukraina memperkuat militernya.
Ngeri, Ukraina Kerahkan Rudal Raksasa 8 Ton untuk Bombardir Rusia
Yermak mengatakan, lebih dari 10 negara lain telah bergabung dengan deklarasi G7. Negaranya sedang menegosiasikan persyaratan jaminan keamanan masa depan dengan setiap negara.
Lebih lanjut Yermak juga mengatakan, pejabat dari sejumlah negara akan bertemu di Arab Saudi untuk membahas proposal perdamaian yang disampaikan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Putin Tegaskan Tak Menolak Negosiasi Damai dengan Ukraina, tapi...
Dia tidak menjelaskan secara rinci kapan pertemuan berikutnya digelar, namun proposal itu akan dibahas dalam tiga tahap, sampai puncaknya melibatkan kepala negara dan pemerintahan.
Surat kabar AS The Wall Street Journal pertama kali melaporkan pertemuan di Arab Saudi pada akhir pekan lalu. Pertemuan akan digelar di Jeddah pada 5-6 Agustus.
Editor: Anton Suhartono