AS: China Bahayakan Dunia karena Sembunyikan Informasi Corona

Antara, Ahmad Islamy Jamil ยท Kamis, 26 Maret 2020 - 17:47 WIB
AS: China Bahayakan Dunia karena Sembunyikan Informasi Corona

Petugas medis China menangani wabah corona (ilustrasi). (Foto: AFP)

LONDON, iNews.id - Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk London menilai China telah membahayakan dunia dengan menyembunyikan informasi soal wabah virus corona (Covid-19). Dia juga menanggap China patut disalahkan lantaran membiarkan virus menyebar jauh keluar perbatasan negara komunis itu. 

"Mulanya China berusaha membungkam kabar tersebut," ungkap Duta Besar Woody Johnson dalam artikel surat kabar The Times, yang diterbikan Kamis (26/3/2020) ini. 

Dia menuturkan, Beijing kemudian membagikan informasi penting secara selektif sambil menghalangi otoritas kesehatan internasional melakukan tugas mereka. "Seandainya saja China melakukan hal yang benar pada waktu yang tepat, lebih banyak penduduknya, dan seluruh dunia, mungkin terhindar dari dampak paling serius penyakit ini," kata dia. 

"Ketika krisis akhirnya mereda, kita harus memperhitungkan akibatnya dan mengevaluasi kerugian dari wabah ini secara global," ujarnya.  

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebelumnya mengingatkan semua pemerintah di dunia agar berhenti membuang-buang waktu berharga yang diperlukan dalam memerangi Covid-19. Lembaga khusus PBB itu meminta pemerintah tak lagi menyia-nyiakan kesempatan untuk mencegah pandemi Covid-19 semakin meluas.  

“Kita sudah menyia-nyiakan kesempatan pertama. Waktu untuk mulai bertindak sebenarnya lebih dari sebulan yang lalu atau dua bulan yang lalu,” ujar Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, dikutip Alarabiyah, Kamis (26/3/2020). 

Dia mengatakan, wabah Covid-19 saat ini telah menelan korban hampir 20.000 jiwa di seluruh dunia. Lebih miris lagi, wabah tersebut hampir dijumpai di setiap negara. Menurut Tedros, dunia masih memiliki peluang kedua untuk memerangi Covid-19 hingga tuntas. Ini karena masih ada 150 negara yang jumlah penduduk terinfeksinya kurang dari 100 kasus.


Editor : Ahmad Islamy Jamil