Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Nah, AS Tiba-Tiba Cabut Jatah Kuota Tiket untuk Suporter Iran di Piala Dunia
Advertisement . Scroll to see content

AS-Israel, Negara Sekutu Dekat tapi Perang Intelijen

Selasa, 09 Juni 2026 - 13:59:00 WIB
AS-Israel, Negara Sekutu Dekat tapi Perang Intelijen
Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Israel selama ini dikenal sangat dekat, terutama dalam bidang pertahanan dan keamanan (Foto: AI)
Advertisement . Scroll to see content

WASHINGTON, iNews.id - Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Israel selama ini dikenal sangat dekat, terutama dalam bidang pertahanan dan keamanan. Namun di balik kerja sama strategis yang erat itu, kedua negara ternyata juga terlibat dalam perang intelijen yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Laporan intelijen terbaru AS bahkan memicu kekhawatiran baru terkait meningkatnya aktivitas spionase Israel terhadap pejabat dan personel pemerintah AS. Situasi ini menjadi sorotan karena terjadi di tengah kerja sama militer yang semakin intensif antara kedua negara dalam menghadapi Iran.

Surat kabar The New York Times (NYT), mengutip sejumlah pejabat AS, melaporkan adanya peningkatan aktivitas mata-mata Israel yang dianggap mengkhawatirkan. Israel disebut mengawasi beberapa pejabat senior AS, termasuk utusan Presiden Donald Trump Steve Witkoff, kepala kebijakan Pentagon Elbridge A Colby, serta wakilnya Michael P DiMino IV.

Meski demikian, para pejabat mengakui praktik spionase timbal balik sebenarnya bukan hal baru dalam hubungan kedua negara. AS dan Israel selama ini sama-sama mengetahui dan dalam batas tertentu menoleransi aktivitas intelijen satu sama lain. Namun, perkembangan terbaru disebut telah melampaui tingkat yang biasa terjadi.

Kekhawatiran Washington semakin meningkat setelah Badan Intelijen Pertahanan (DIA) menaikkan tingkat ancaman kontraintelijen Israel dari level "tinggi" menjadi "kritis". Penilaian tersebut berkaitan dengan dugaan upaya Israel memata-matai personel militer AS serta pejabat pemerintah.

Ironisnya, peringatan itu muncul ketika kerja sama militer kedua negara terkait konflik dengan Iran berada pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. AS terus berbagi informasi intelijen taktis dan operasional kepada Israel untuk mendukung berbagai operasi keamanan.

Namun sejumlah pejabat AS meyakini Israel tidak hanya mencari informasi militer, melainkan juga berusaha memperoleh gambaran lebih dalam mengenai strategi pemerintahan Trump dalam bernegosiasi dengan Iran serta perubahan sikap yang berkembang dalam proses diplomasi tersebut.

Peringatan dari komunitas intelijen AS berpotensi memengaruhi hubungan pertahanan kedua negara. Pentagon bahkan disebut dapat mempertimbangkan pembatasan pertukaran informasi dengan perwira Israel jika ancaman kontraintelijen dinilai terus meningkat.

Ketegangan juga dipicu oleh perbedaan pendekatan terhadap Iran. Presiden Donald Trump lebih memprioritaskan jalur diplomasi untuk menyelesaikan konflik, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu tetap mendorong pendekatan militer guna melemahkan Iran beserta jaringan sekutunya di kawasan, termasuk Hizbullah.

Laporan DIA tersebut muncul setelah insiden yang melibatkan personel pertahanan AS di Israel. Mereka menemukan perangkat lunak yang diam-diam dipasang di ponsel dan diduga berfungsi membocorkan komunikasi pengguna.

Meski demikian, Pentagon menolak memberikan komentar terkait insiden tersebut. Gedung Putih juga membantah tuduhan yang beredar, sementara pemerintah Israel menegaskan tidak melakukan kegiatan mata-mata terhadap pejabat maupun lembaga AS.

Para pejabat AS saat ini dan mantan pejabat menilai Israel telah lama menjalankan operasi intelijen agresif terhadap sekutu maupun lawan. Bahkan, menurut mereka, aktivitas intelijen Israel kini menimbulkan kekhawatiran kontraintelijen yang lebih besar dibandingkan sebagian besar sekutu AS lainnya, bahkan melebihi beberapa negara yang dianggap musuh.

Seorang pejabat senior AS menggambarkan aktivitas pengumpulan intelijen Israel selama pemerintahan kedua Trump sebagai sesuatu yang semakin sulit dikendalikan. Kondisi itu menunjukkan bahwa di balik hubungan erat kedua negara, persaingan dan kecurigaan di dunia intelijen tetap berlangsung hingga saat ini.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut