AS Mulai Tarik Diplomat dari Timur Tengah, Khawatir Serangan Iran
WASHINGTON, iNews.id - Pemerintah Amerika Serikat (AS) mulai menarik diplomat serta anggota keluarga mereka dari sejumlah negara di Timur Tengah, di tengah meningkatnya ancaman serangan yang dikaitkan dengan Iran dan kelompok Houthi Yaman. Langkah pengamanan ini dilakukan saat intelijen AS memperingatkan potensi serangan mematikan terhadap personel militer maupun warga Amerika di luar negeri.
Departemen Luar Negeri (Deplu) AS pada 21 Oktober memerintahkan pegawai pemerintah non-darurat beserta anggota keluarga mereka untuk meninggalkan kantor misi diplomatik di Arab Saudi. Washington juga berencana menarik anggota keluarga dari sejumlah misi diplomatik lainnya di kawasan Timur Tengah.
Direktur Intelijen Nasional AS Jay Clayton mengungkap peningkatan upaya Iran untuk menargetkan personel AS. Dalam memo kepada Menteri Luar Negeri (Menlu) Marco Rubio tertanggal 23 Oktober, Clayton menyebut ancaman terhadap warga AS telah mencapai tahap lanjut.
“Secara khusus, melalui berbagai saluran, kami telah mendapat informasi intelijen bahwa Iran telah secara substansial meningkatkan upaya untuk menargetkan personel AS,” tulis Clayton dalam memo tersebut, seperti dikutip Reuters, Senin (26/10/2026).
“Upaya serangan mematikan oleh Iran terhadap warga AS telah mencapai tahap lanjut, baik di Timur Tengah maupun beberapa negara lain,” lanjutnya.
Kekhawatiran Washington tidak terlepas dari meningkatnya ketegangan di kawasan, termasuk serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran. Sejumlah pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa Iran sedang mempersiapkan pembalasan yang lebih keras jika Washington kembali melancarkan serangan militer skala besar ke wilayahnya.
Di tengah situasi tersebut, Deplu AS pada Sabtu (24/10/2026) memperbarui peringatan perjalanan bagi warga Amerika yang hendak bepergian ke belasan negara di Teluk dan Timur Tengah. Negara-negara yang masuk dalam peringatan itu antara lain Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Irak, dan Israel.
Washington menyebut meningkatnya ancaman dari Houthi dan dugaan rencana serangan Iran terhadap pejabat AS turut memengaruhi keputusan mengenai penyesuaian jumlah staf di sejumlah kantor diplomatik.
“Ancaman serangan Houthi dan rencana teror Iran yang menargetkan pejabat AS memengaruhi keputusan kami tentang penyesuaian staf untuk kedutaan yang berstatus Operasi Terbatas (Restricted Operations/RO) di wilayah tersebut,” kata seorang sumber pejabat AS.
Penyesuaian staf dan penarikan keluarga diplomat tersebut menjadi bagian dari langkah pengamanan Washington di tengah ketidakpastian situasi keamanan Timur Tengah. Namun, peringatan intelijen itu belum berarti serangan yang disebutkan telah terjadi.
Editor: Anton Suhartono