Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Ini Alasan Trump Ingin Buru-Buru Teken Perjanjian Damai dengan Iran
Advertisement . Scroll to see content

AS Perintahkan Diplomatnya Segera Tinggalkan Venezuela

Jumat, 25 Januari 2019 - 10:13:00 WIB
AS Perintahkan Diplomatnya Segera Tinggalkan Venezuela
Warga Venezuela menggalang aksi dukungan untuk Presiden Nicolas Maduro. (Foto: AFP)
Advertisement . Scroll to see content

WASHINGTON, iNews.id - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Amerika Serikat (AS) memerintahkan staf di Kedutaan Besar di Venezuela untuk meninggalkan negara itu. Perintah ini keluar sehari setelah Presiden VenezuelaNicolas Maduro mengatakan memberikan waktu 72 jam bagi diplomat AS untuk keluar dari negaranya.

Awalnya, Menteri Luar Negeri Mike Pompeo mengatakan AS tidak menganggap Maduro sebagai pemimpin Venezuela yang sah dan negara itu tidak berhak memutuskan hubungan dengan AS.

"Dia tidak memiliki otoritas hukum untuk memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat atau menyatakan diplomat kami persona non grata," kata Pompeo, seperti dilaporkan Fox News, Jumat (25/1/2019).

Namun, Kemlu AS menyatakan bahwa staf dan diplomat yang tidak menduduki jabatan penting untuk operasi akan meninggalkan negara itu dengan alasan keamanan. Kedutaan besar di Caracas akan tetap terbuka.

Langkah ini dilakukan beberapa hari setelah pemerintahan Trump mengumumkan pihaknya mengakui pemimpin oposisi Venezuela, Juan Gaido, sebagai presiden sementara.

Sebelumnya, Maduro memerintahkan semua diplomat Venezuela pulang dari AS dan mengatakan akan menutup kedutaannya. Dia mengatakan jika pejabat AS memiliki akal, mereka akan menarik keluar diplomat mereka sendiri, daripada menentang perintahnya.

AS dan Venezuela belum pernah bertukar duta besar selama hampir 10 tahun, namun mereka mempertahankan staf diplomatik.

Pada Selasa kemarin, Wakil Presiden Mike Pence dalam rekaman video yang dikirim ke Venezuela, menyebut Maduro sebagai "seorang diktator tanpa klaim sah atas kekuasaan."

"Dia tidak pernah memenangkan kursi kepresidenan dalam pemilihan yang bebas dan adil, dan mempertahankan cengkeramannya dengan memenjarakan siapa pun yang berani menentangnya," kata Pence dalam video itu.

Maduro, yang memulai masa jabatan keduanya sebagai presiden pada 10 Januari setelah pemilu yang disengketakan, menghadapi permusuhan dari masyarakat internasional yang terus meningkat.

Dia berusaha mendapatkan dukungan dari angkatan bersenjata dengan membagikan pos-pos penting kepada para jenderal penting, termasuk satu sebagai kepala monopoli minyak yang merupakan sumber dari hampir semua pendapatan ekspor Venezuela.

Editor: Nathania Riris Michico

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut