AS Sebar Sistem Pertahanan Udara THAAD dan Patriot di Timur Tengah
WASHINGTON, iNews.id - Amerika Serikat (AS) memperkuat pertahanan udara dan rudal di seluruh Timur Tengah sebagai persiapan pembalasan Iran jika serangan benar-benar terwujud.
Beberapa sumber pejabat AS mengatakan kepada surat kabar The Wall Street Journal (WSJ), Departemen Pertahanan (Pentagon) mengerahkan sistem pertahanan udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) tambahan dan Patriot ke pangkalan-pangkalan AS, termasuk di Yordania, Kuwait, Bahrain, Arab Saudi, dan Qatar.
Sistem THAAD didesain untuk mencegat rudal balistik di posisi tinggi, sementara Patriot melindungi dari ancaman rudak jarak pendek dan terbang rendah.
Jumlah baterai THAAD AS yang siap beroperasi di seluruh dunia sangat terbatas. Oleh karena itu, para pengamat menilai pengerahan terbaru ini patut menjadi perhatian. Terlebih, pengiriman sistem tersebut membutuhkan personel dan dukungan logistik yang signifikan.
Pemimpin Tertinggi Iran: Serangan AS Akan Picu Perang Timur Tengah!
Presiden AS Donald Trump belum membuat keputusan final mengenai serangan terhadap Iran. Namun, para pejabat mengatakan, AS bisa saja melakukan serangan terbatas terhadap Iran melibatkan pasukan yang telah siaga di kawasan.
Meski demikian, sekecil apa pun skala serangan AS ke Iran pasti akan direspons secara besar-besaran. Oleh karena itu seberapa pun skala serangan harus diimbangi dengan pertahanan yang lebih kuat, termasuk melindungi personel militer serta sekutu-sekutunya termasuk Israel.
Iran Semakin Pede Hadapi Serangan AS, Perang 2025 Jadi Pelajaran Berharga
Angkatan Laut AS juga menyiagakan beberapa kapal destroyer berpeluru kendali di wilayah tersebut yang mampu mencegat ancaman udara seperti rudal dan drone.
Kapal-kapal tersebut beroperasi di dekat Selat Hormuz, Laut Arab Utara, Laut Merah dekat Israel, dan Mediterania.
Kekuatan udara tambahan juga telah ditempatkan lebih dekat dengan Iran, termasuk skuadron jet tempur F-15E di Yordania dan F-35 AS yang baru-baru ini transit melalui Eropa. Pesawat perang elektronik juga telah digeser ke garis depan.
Komando Pusat AS (Centcom), yang mengawasi operasi militer AS di Timur Tengah, menolak berkomentar tentang penempatan saat ini.
Negara-negara Arab, seperti Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, telah menegaskan tak akan mengizinkan wilayah mereka, baik darat, laut, maupun udara, digunakan untuk menyerang AS.
Editor: Anton Suhartono