Babak Baru Perang Rusia Vs Ukraina, Negara-Negara Eropa Bakal Terlibat?
BRUSSELS, iNews.id - Ketua Komisi Eropa Ursula von der Leyen berjanji untuk terus menekan Rusia, termasuk dengan sanksi, terkait serangan drone ke Bandara Leipzig/Halle, Jerman. Dia menyebut Rusia semakin menunjukkan kecerobohan.
Para pekerja bandara bulan lalu menemukan satu drone masih penuh bahan peledak dan detonator di bandara yang menjadi pusat logistik kargo sipil dan NATO di Jerman timur.
Bandara itu juga menjadi pangkalan bagi beberapa pesawat kargo Antonov An-124 milik Ukraina.
Jerman menyalahkan Rusia atas serangan tersebut dengan menyebutnya sebagai perang hibrida bertujuan untuk mengintimidasi dan menyebabkan perpecahan negara-negara yang mendukung Ukraina dalam perang.
Namun Rusia membantah keterlibatan soal drone yang memasuki wilayah NATO. Moskow juga menyebut tuduhan Jerman itu sebagai tindakan anti-Rusia.
“Eropa dan NATO tidak hanya akan mempertahankan tekanan terhadap Rusia, kami akan meningkatkannya, dan kami tidak akan berhenti, sampai Rusia berhenti mengebom dan membunuh anak-anak, laki-laki, dan perempuan tidak bersalah di Ukraina,” kata von der Leyen, usai bertemu Sekjen NATO Mark Rutte, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (2/9/2026).
Warga Eropa, lanju dia, dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa serangan-serangan hibrida itu seperti menjadi kenormalan baru.
Rutte mengatakan lebih banyak drone dan rudal Rusia melintasi wilayah udara NATO di sayap timur Eropa. Selain itu ada peningkatan aktivitas kriminal, termasuk serangan Leipzig.
"Jika Rusia mengira kita akan terpecah belah oleh ancaman ini, atau mengira kita menjadi terhalangi untuk mendukung Ukraina, mereka salah," ujarnya.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, mengatakan pihaknya sedang membahas sanksi terkait kompleks militer Rusia. Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis menyerukan tindakan tegas menargetkan sektor energi.
Uni Eropa dan beberapa negara anggota telah memanggil diplomat Rusia untuk menyampaikan protes. Jerman akan menutup konsulat jenderal Rusia di Bonn dan menghentikan perjanjian dengan pusat budaya Russian House di Berlin.
Uni Eropa sedang menyusun tanggapan atas pelanggaran Rusia, Jerman bergulat dengan dua kasus dugaan sabotase baru dalam waktu 24 jam.
Dalam kasus pertama, pihak berwenang menyelidiki vandalisme di gardu induk Negara Bagian Rhine-Westphalia Utara (NRW) yang menyebabkan unit pembangkit listrik tenaga batu bara dengan kapasitas gabungan 4.200 megawatt (MW) mati.
Pada Selasa, perangkat membawa material konduktif merusak saluran listrik di salah satu titik tegangan tinggi paling kritis di Brandenburg.
Otoritas Jerman belum menetapkan pelaku, namun menteri dalam negeri NRW menyebut keterlibatan kekuatan asing atau ekstremis sayap kiri.
Editor: Anton Suhartono