Baju Putih Razan Al Najjar, Kode Penyelamat yang Diabaikan Israel
GAZA, iNews.id - Penembakan terhadap relawan medis Gaza, Palestina, Razan Al Najjar, yang dilakukan sniper atau penembak jitu Israel membuat para tenaga medis di Gaza khawatir tidak ada lagi jaminan terhadap keselamatan mereka saat bertugas.
Pasalnya selama ini tenaga medis di Jalur Gaza sebenarnya sudah memiliki prosedur ketika membantu orang-orang yang terluka agar tidak menjadi korban sniper Israel. Namun, penembakan atas Razan membuat mereka khawatir jika prosedur itu tak lagi membantu.
Diberitakan BBC, Jumat (15/6/2018), prosedur yang selama ini ditempuh adalah mengenakan baju putih dengan garis warna yang mencolok untuk memastikan penembak jitu mengenali mereka dari jarak jauh.
Saat mendekati korban yang jatuh di dekat pagar perbatasan Gaza-Israel, mereka akan bergerak perlahan, mengangkat tangan, dan berteriak keras-keras, "Jangan menembak, ada yang terluka."
Prosedur ini penting agar di antara ban-ban yang terbakar serta asap dari gas air mata, mereka tetap dikenali sebagai tenaga medis dan tidak akan ditembak tentara Israel.
Namun, saat ini prosedur tersebut dikhawatirkan tak bisa lagi menjadi jaminan keselatan setelah Razan Al Najjarm, perawat asal Desa Khuza'a, tewas terkena tembakan sniper pada Jumat (1/6) lalu.
"Razan selalu berpikiran baju putih yang dia kenakan akan bisa melindunginya," kata ibunda Razan, Sabrine Al Najjar, beberapa hari setelah putrinya dimakamkan.
"Dunia tahu apa arti baju putih yang dia kenakan," tambah Sabrine, dalam wawancara dengan The Guardian.
Pada Jumat (1/6), Razan terjatuh setelah dadanya tertembus peluru tajam saat tengah mendekati korban. Dia tewas karena nyawanya tak bisa diselamatkan lagi.
Sabrine menyebut tentara Israel tahu siapa Razan. Menurutnya, Razan sengaja ditembak oleh sniper Israel.
"Mereka tahu dia adalah tenaga medis yang membantu merawat para demonstran yang terluka. Peluru tepat diarahkan ke dadanya, ini bukan peluru yang menyasar," kata Sabrine.
Aksi unjuk rasa di perbatasan Gaza digelar sejak 30 Maret dan disebut sebagai the Great March of Return, untuk menuntut hak bagi rakyat Palestina kembali ke rumah-rumah mereka setelah diusir pada 1948.
Pada hari Razan mati tertembak, empat tenaga medis Palestina lain terluka saat merawat sekitar 100 demonstran, dan 40 di antaranya terkena tembakan peluru tajam tentara Israel.
"Razan biasanya meninggalkan rumah pada pukul 07.00 dan kembali sekitar pukul 20.00. Di lapangan, dia mengobati orang-orang yang terluka. Dia pemberani dan tak pernah takut dengan sniper Israel," ungkap Sabrine.
"Seragam putih yang dia kenakan biasanya penuh dengan bercak darah para korban. Di lokasi unjuk rasa, dia baru pulang ketika sudah tidak ada lagi pengunjuk rasa yang memerlukan perawatan," jelasnya.
Kematian Razan membuat masyarakat internasional mengecam keras Israel. Mereka menyayangkan dan prihatin mengapa tenaga kesehatan yang terlihat jelas mengenakan seragam dan atribut medis serta tengah melakukan tugas kemanusiaan ditembak.
Atas hal ini, militer Israel menyebut akan melakukan investigasi resmi. Para pejabat militer Israel juga menyatakan penembakan Razan bukanlah kesengajaan.
"Penelitian awal atas insiden ini menemukan peluru ditembakkan, dan tidak ada tembakan yang sengaja diarahkan kepadanya," demikian pernyataan militer Israel.
Belakangan, militer dan pejabat Israel, di antaranya juru bicara Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, merilis video pendek wawancara Razan. Video itu seakan menunjukkan Razan merupakan tameng manusia dan dia melakukan hal itu untuk kelompok Hamas.
Banyak pihak mengecam video ini karena diketahui sudah lebih dulu diedit. Dalam video yang sesungguhnya, Razan mengatakan dia berada di lokasi unjuk rasa untuk menyelamatkan orang-orang yang terluka di garis depan. Dia juga sama sekali tidak meyebut nama Hamas.
Editor: Nathania Riris Michico