Bantah Iran, Trump Kukuh Negosiasi Sedang Berlangsung
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kukuh pihaknya sedang bernegosiasi dengan Iran meski ada bantahan dari Teheran. Trump kembali melontarkan ancaman keras kepada Iran bahwa ini menjadi kesempatan terakhir atau akan dilenyapkan.
Trump mengatakan pemerintahannya setuju untuk melanjutkan negosiasi dengan Iran atas permintaan Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, serta beberapa negara lain.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Iran sebelumnya membantah ada negosiasi dengan AS pada Senin (3/9/2026) sebagaimana disampaikan Trump.
"Kami sedang berunding sekarang. Ini adalah kesempatan terakhir bagi mereka untuk menandatangani dokumen secara baik," ujarnya, seperti dikutip dari AFP, Selasa (4/8/2026).
"Saya ingin memberi mereka kesempatan terakhir sebelum dipenggal," katanya, menegaskan.
Perundingan terbaru ini berfokus pada pembukaan kembali Selat Hormuz secara total yang menurut Trump bisa saja dilakukan mulai hari ini. Sementara itu perlucutan nuklir Iran mungkin membutuhkan waktu sedikit lebih panjang.
Konflik AS-Iran bergeser, tak hanya sekadar isu nuklir, tapi juga pengaturan lalu lintas di Selat Hormuz. Iran bersikeras tetap akan mengatur kendali jalur peraitan penting bagi pasokan energi dunia itu, namun AS ingin statusnya dikembalikan seperti sebelum perang 28 Februari.
Sejak itu Iran membatasi lalu lintas kapal dagang di Selat Hormuz, termasuk membuat rute khusus untuk kapal-kapal. Setiap kapal yang melintasi rute yang dibuat oleh AS akan ditembak.
Badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, menyatakan sebuah kapal kargo dihantam rudal di Selat Hormuz di lepas pantai Oman, Selasa pagi.
Kapal yang tidak disebutkan namanya itu melaporkan terkena serangan, namun belum ada laporan rinci mengenai kerusakan atau korban.
Juru Bicara Kemlu Iran Esmail Baghaei sebelumnya mengatakan, tidak ada negosiasi dengan AS yang sedang berlangsung.
“Negosiasi kami adalah dengan Oman untuk mengamankan jalur melalui Selat Hormuz,” kata Baghaei.
Editor: Anton Suhartono