Get iNews App with new looks!
inews
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Menggemaskan! Kucing Ini Dilantik sebagai Kepala Stasiun di Jepang
Advertisement . Scroll to see content

Begini Cara Para Orang Tua di Jepang Carikan Jodoh untuk Anak

Selasa, 20 Februari 2018 - 06:14:00 WIB
Begini Cara Para Orang Tua di Jepang Carikan Jodoh untuk Anak
(Foto: Japan Times)
Advertisement . Scroll to see content

TOKYO, iNews.id - Hasil penelitian National Institute of Population and Social Security Research mengungkap, pada akhir 1930-an, hampir 70 persen pasangan suami istri (pasutri) di Jepang menikah karena dijodohkan. Persentasenya menurun drastis menjadi 50 persen pada 1960-an, lalu terjun bebas menjadi 5,5 persen pada 2014.

Survei oleh lembaga yang sama pada 2015 menunjukkan, jumlah pria Jepang yang tak menikah hingga usia 50 tahun mencapai 23,37 persen dan perempuan 14,06 persen. Angka tersebut menunjukkan kenaikan. Berdasarkan survei pada 2000, pria Jepang yang tak menikah hingga menginjak kepala lima sebanyak 12,57 persen dan untuk perempuan 5,82 persen.

Alasan banyak warga yang memilih tetap melajang, antara lain penghasilan yang rendah serta tak ingin karier mereka terganggu. Ini juga yang menjadi penyebab angka kelahiran di Jepang terus menurun.

Namun masih ada harapan kondisi tersebut akan berubah. Survei yang dilakukan oleh lembaga yang sama pada 2015 menunjukkan, ada keinginan yang tinggi dari warga Jepang untuk menikah. Hampir 90 persen perempuan dan laki-laki berusia antara 18 hingga 34 tahun ingin menikah suatu saat.

Profesor sosiologi keluarga dari Universitas Chuo, Masahiro Yamada, seperti dikutip dari Kyodo, Senin 19 Februari 2018, mengatakan, sebenarnya banyak warga Jepang, terutama yang sudah memasuki usia menikah, masih memegang teguh prinsip bahwa menikah merupakan cara untuk menjaga keberlangsungan keturunan keluarga. Namun banyak kendala pribadi yang mereka hadapi.

Menurut Yamada, orang tua, yang memiliki anak berusia paruh baya namun tetap sendiri, sangat khawatir, apa yang akan terjadi setelah kepergiannya.

"Banyak orang tua ingin menikahkan anak mereka bagaimana pun caranya. Karena, terlalu menyakitkan untuk membayangkan anak mereka meninggal sendirian," kata Yamada.

Hal ini yang menjadi penyebab semakin menjamurnya acara-acara pencarian jodoh. Para orang tua mendatangi acara-acara tersebut untuk mencari pasangan hidup untuk anak mereka. Seperti yang terjadi pada pertengahan Januari lalu, di mana 60 orang tua hadir dalam acara pencarian jodoh yang digelar oleh Living Mariage di salah satu hotel di Tokyo.

Acara itu dimanfaatkan para orang tua untuk mencari calon besan. Sebelumnya mereka sudah berselancar di internet untuk mencari calon mertua potensial bagi anak-anak mereka.

"Saya ingin anak saya menemukan seseorang yang dengannya dia dapat menjalin hubungan yang saling mendukung. Anak saya seorang pekerja yang sibuk, jadi saya datang ke sini untuk mencarikan untuknya," kata Sachiko Fukazawa, perempuan berusia 64 tahun yang mencarikan jodoh untuk anak perempuannya berusia 38 tahun.

Dia berharap akan menemukan besan yang bisa menerima anaknya serta memiliki banyak kesamaan. "Karena akan sulit jika mendapatkan mertua yang memiliki banyak perbedaan dengan kami," ujarnya.

Jika merasa cocok, para peserta ajang pencarian jodoh ini akan saling bertukar nomor telepon. Mereka juga akan membawa pulang biodata anak-anak mereka. Jika anak-anak cocok, mereka bisa melanjutkan ke kencan.

Acara mencari jodoh ini hanya boleh dihadiri oleh peserta yang sudah mendapat persetujuan dari anak mereka. Tak murah untuk bisa hadir di acara ini, setiap peserta harus membayar 10.000 yen atau sekitar Rp1,3 juta untuk 2 jam pertemuan.

Editor: Anton Suhartono

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut