Besok Kaisar Akihito Turun Takhta, Ini Sosok Naruhito Sang Penerus
TOKYO, iNews.id - Kaisar Akihito (85) dari Jepang akan turun takhta pada Selasa (30/4/2019) setelah 30 tahun berkuasa. Negara Matahari Terbit itu kini bersiap menanti penobatan kaisar baru, Naruhito, yang sebelumnya berstatus Putra Mahkota.
Akihito merupakan kaisar pertama yang turun takhta dalam 200 tahun. Pengunduran diri terakhir oleh seorang raja Jepang terakhir dilakukan pada 1817.
Naruhito, yang merupakan putra Kaisar Akihito, akan resmi dinobatkan sebagai kaisar baru Jepang pada Rabu (1/5). Namun, menurut laporan Associated Press, prosesi upacara yang lebih rumit akan digelar pada Oktober mendatang.
Pada Agustus 2016, Akihito menyampaikan kekhawatiran tentang usia dan kesehatannya yang semakin menurun. Dia akhirnya menyatakan keinginan untuk turun takhta saat masih dalam keadaan sehat.
Sebagai simbol yang didefinisikan secara konstitusional tanpa kekuatan politik, Akihito meminta pengertian kepada rakyat Jepang dalam sebuah pesan. Pesan itu mendapat dukungan publik yang besar, dan membuka jalan untuk mendapatkan persetujuan pemerintah.
Undang-undang bernama "Japan's Imperial House Law" tidak memiliki ketentuan tentang pengunduran diri oleh kaisar yang berkuasa dan secara nyata hanya memperbolehkan suksesi setelah meninggal.
Namun, pemerintah Jepang untuk pertama kali memberlakukan hukum untuk mengizinkan pengunduran diri Kaisar Akihito.
Siapa Putra Mahkota Naruhito?
Naruhito adalah anak tertua dari dua putra Kaisar Akihito. Dia seorang musisi dan pejalan kaki yang bersemangat. Naruhito, yang berusia 59 tahun, menghabiskan dua tahun untuk studi di Oxford dan menulis sebuah makalah tentang sistem transportasi Sungai Thames abad ke-18, setelah mempelajari sejarah di Universitas Gakushuin, sekolah yang dulunya adalah aristokrat.
Istri Naruhito, Masako, adalah mantan diplomat berpendidikan Harvard. Dia pulih dari kondisi stres setelah melahirkan putri mereka, Aiko, di tengah tekanan publik untuk memiliki anak laki-laki.
Di bawah hukum suksesi, Aiko (18), dilarang mewarisi takhta kekaisaran Jepang. Suksesi -yang hanya boleh untuk bangsawan pria- harus jatuh pada saudara laki-laki Aiko atau bisa digantikan pula oleh Pangeran Fumihito -adik Naruhito- yang lebih dikenal dengan gelar Akishino.
Putra Pangeran Fumihito, Hisahito (12) akan menjadi kaisar berikutnya.
Diskusi tentang pengubahan hukum untuk memungkinkan suksesi perempuan berakhir dengan lahirnya Hisahito. Sebab, sebelum Hisahito lahir, Pangeran Fumihito memiliki dua anak perempuan.
Namun, suksesi Akihito tetap meningkatkan kekhawatiran tentang masa depan keluarga kekaisaran Jepang.
Prosedur Turun Takhta?
Akihito akan mengumumkan pengunduran dirinya dalam ritual istana pada Selasa (30/4) malam, tetapi secara teknis dia tetap menjadi kaisar sampai tengah malam.
Pada Rabu pagi, Naruhito, dalam ritual pertamanya sebagai kaisar, menerima regalia Kekaisaran, termasuk pedang dan permata, sebagai bukti kenaikannya atas takhta Jepang.
Selain pejabat pemerintah, hanya bangsawan laki-laki dewasa yang diizinkan hadir. Ini merupakan sebuah tradisi yang dipegang teguh pemerintah meskipun ada kritik yang diajukan oleh publik.
Tanggung Jawab Akihito Setelah Turun Takhta
Akihito akan memegang gelar baru, Kaisar Emeritus. Namun, dia akan sepenuhnya pensiun dari tugas resmi dan tidak akan lagi menandatangani dokumen, menerima pejabat asing, menghadiri acara-acara pemerintah atau melakukan ritual istana.
Dia bahkan tidak akan menghadiri ritual suksesi putranya dan akan surut dari penampilan publik.
Kegiatannya akan sangat pribadi agar tidak mengganggu kaisar yang bertugas. Setelah turun tahta, Akihito dan Permaisuri Michiko akan pindah ke kediaman sementara kerajaan sebelum akhirnya bertukar tempat dengan Naruhito setelah renovasi di setiap tempat.
Editor: Nathania Riris Michico