Brasil Catat Rekor, Infeksi Covid-19 Melonjak 26.417 Kasus dalam Sehari

Ahmad Islamy Jamil ยท Jumat, 29 Mei 2020 - 18:23 WIB
Brasil Catat Rekor, Infeksi Covid-19 Melonjak 26.417 Kasus dalam Sehari

Presiden Brasil, Jair Bolsonaro. (Foto: AFP)

BRASIL, iNews.id – Brasil mencatatkan rekor lonjakan harian infeksi virus corona (Covid-19) tertinggi yakni mencapai 26.417 kasus baru dalam 24 jam terakhir. Dengan begitu, total kejadian infeksi Covid-19 di seluruh negeri samba itu kini menjadi 438.238 kasus, menurut otoritas setempat pada Kamis (28/5/2020).

Selain itu, sebanyak 1.156 pasien Covid-19 di Brasil dilaporkan meninggal dunia dalam kurun sehari belakangan. Dengan begitu, secara keseluruhan kasus kematian akibat wabah corona di negara itu kini mencapai 26.754 jiwa.

Dilansir CNN, Brasil telah melaporkan kematian Covid-19 di atas 1.000 selama tiga hari berturut-turut. Sejak pandemi mulai melanda negeri itu, sebanyak 177.604 pasien dinyatakan sembuh dari penyakit pernapasan tersebut.

Di Sao Paulo, yang menjadi episentrum Covid-19 sekaligus wilayah paling padat penduduk di Brasil, mencatatkan 6.980 kematian dengan total 95.865 kasus infeksi corona. Sementara, posisi kedua ditempati Rio de Janeiro dengan 4.856 kematian dan 44.886 kasus infeksi.

Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, menuai kritik secara luas lantaran penanganannya terhadap wabah yang amburadul. Di samping itu, dia kini juga sedang dihadapkan pada krisis politik yang mendalam.

Elektabilitas politikus berlatar belakang pensiunan militer itu pun mengalami penurunan akibat sikap keras kepalanya menentang langkah-langkah jaga jarak sosial (social distancing). Keputusannya mendukung obat antimalaria klorokuin bagi pasien Covid-19 pun tak terbukti mujarab. Belum lagi perselisihannya dengan para pejabat kesehatan publik yang berpengalaman, semakin membuat penanganan wabah corona makin amburadul.

Jumlah kasus infeksi dan kematian akibat corona yang sebenarnya di Brasil mungkin lebih tinggi dari angka yang diperkirakan. Ini karena negara Amerika Latin dengan perekonomian tertinggi itu dianggapt terlalu lamban untuk meningkatkan pengujian corona secara massal.

Editor : Ahmad Islamy Jamil