Bukan Mobil Mewah, Putri Kim Jong Un Nyetir Tank Anti-Rudal Korea Utara
SEOUL, iNews.id - Ada pemandangan menarik saat latihan tempur melibatkan tank-tank terbaru Korea Utara (Korut). Pemimpin Korut Kim Jong Un mengajak putrinya, Ju Ae, menaiki salah satu tank yang diklaim canggih tersebut.
Foto-foto yang dirilis kantor berita pemerintah KCNA belum lama ini menunjukkan, Kim menaiki tank bersama Ju Ae mengenakan jaket kulit. Kim tampak duduk di dek atas, sementara Ju Ae mengendarai mesin perang tersebut di kabin yang tak ditutup palka.
Kim duduk dengan santai di dek sembari mengarahkan Ju Ae mengemudikan tank. Sementara tiga personel militer mengawal dengan berada di turet meriam.
Momen Ju Ae menaiki tank merupakan penampilan terbarunya di acara militer. Sebelumnya, remaja yang diyakini baru berusia 13 atau 14 tahun itu beberapa kali diajak Kim menyaksikan langsung uji coba peluncuran rudal.
ABG 13 Tahun jadi Dirjen Rudal, ternyata Putri Pemimpin Korut Kim Jong Un
Korut memamerkan tank tempur baru yang diklaim bisa menangkis serangan rudal dan drone dalam latihan tempur belum lama ini.
Kim mengawasi langsung latihan yang menyimulasikan serangan, penyergapan, dan pendudukan garis pertahanan musuh.
Sosok Kim Ju Ae, Putri Kim Jong Un Berusia 13 Tahun yang Jadi Dirjen Rudal Korut
“Tank tersebut mencegat 100 persen rudal anti-tank dan drone yang menyerangnya dari berbagai posisi dan arah,” demikian laporan kantor berita KCNA.
Disebutkan, peran teknologi yang diadopsinya terbukti efisien sebagai sistem perlindungan tank tersebut.
Tank baru ini membutuhkan waktu 7 tahun untuk dikembangkan, dengan fokus pada peningkatan kelangsungan hidup. Tank tersebut akan berfungsi sebagai alat tempur utama Korut serta membantu meningkatkan operasional malam.
Sementara itu intelijen Korea Selatan (Korsel) yakin Ju Ae telah memasuki fase penunjukan sebagai pemimpin Korut berikutnya.
“Kim Ju Ae kini melampaui peran sebagai pengamat biasa dan sedang membangun citra sebagai seorang pejuang sekaligus komandan,” kata Profesor Lim Eul Chul, peneliti Institut Studi Asia Timur di Universitas Kyungnam.
Editor: Anton Suhartono