Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Advertisement
Aa Text
Share:
Read Next : Viral Olimpiade Robot di China, Humanoid Pecahkan Rekor Lari Lebih Cepat dari Manusia
Advertisement . Scroll to see content

China Bikin Heboh! Humanoid Ikut Tai Chi di Olimpiade Robot

Senin, 24 Agustus 2026 - 12:46:00 WIB
China Bikin Heboh! Humanoid Ikut Tai Chi di Olimpiade Robot
Robot Humanoid ikut kompetisi Tai Chi di China. (Foto: X)
Advertisement . Scroll to see content

BEIJING, iNews.id – Pemandangan tak biasa terjadi di China. Robot humanoid yang biasanya identik dengan teknologi canggih dan pekerjaan industri kini justru tampil dalam gerakan Tai Chi, seni bela diri tradisional China.

Momen tersebut menjadi bagian dari World Humanoid Robot Games 2026 yang digelar di Beijing selama lima hari mulai Sabtu (22/8/2026). Ajang ini menghadirkan robot humanoid dalam berbagai kompetisi yang dirancang menyerupai pertandingan olahraga manusia.

Total ada 51 nomor pertandingan, terdiri dari 30 kompetisi olahraga dan 21 tantangan berbasis skenario kehidupan nyata.

Salah satu yang paling unik adalah Tai Chi. Robot humanoid dituntut menunjukkan kemampuan mengontrol tubuh dan melakukan rangkaian gerakan dengan koordinasi yang presisi.

Salah satu momen Olimpiade Robot di China. (Foto: X)
Salah satu momen Olimpiade Robot di China. (Foto: X)

Pemandangan tersebut seolah mempertemukan dua dunia yang berbeda, yaitu tradisi China dan teknologi robot masa depan.

Robot Tak Cuma Disuruh Berlari

World Humanoid Robot Games 2026 memang bukan sekadar ajang pamer kemampuan robot berlari.

Dalam kompetisi tersebut, humanoid juga mengikuti berbagai nomor seperti tarik tambang dan angkat beban. Ada pula pitch-pot, permainan tradisional China yang mengharuskan peserta melempar batang mirip anak panah ke dalam vas berleher sempit.

Sebelumnya, perhatian dunia tertuju pada nomor lari setelah dua robot humanoid mencatat waktu 100 meter yang lebih cepat dari rekor dunia Usain Bolt, yakni 9,58 detik.

China menghadirkan Olimpiade Robot untuk para humanoid. (Foto: X)
China menghadirkan Olimpiade Robot untuk para humanoid. (Foto: X)

Robot dari model yang sama bahkan mencatat waktu 39,7 detik dalam lari 400 meter, melampaui rekor manusia milik Wayde van Niekerk yang mencapai 43,03 detik.

Namun, aksi Tai Chi memberikan gambaran berbeda mengenai kemampuan humanoid.

Jika berlari membutuhkan kecepatan dan keseimbangan, gerakan Tai Chi menuntut kontrol tubuh yang lebih halus dan presisi.

Gerakan Pelan, Tantangannya Justru Rumit

Di balik gerakan yang terlihat lambat, robot harus mampu mengendalikan posisi tubuh, menjaga keseimbangan dan mengoordinasikan berbagai bagian tubuh secara bersamaan.

Hal ini berkaitan dengan kemampuan humanoid untuk mengontrol gerakan secara presisi, yang nantinya juga dibutuhkan ketika robot melakukan pekerjaan di dunia nyata.

Sebab, dalam kompetisi yang sama, robot diuji melakukan berbagai tugas seperti pengisian daya kendaraan listrik, pekerjaan restoran, perakitan industri, pemindahan material hingga menyambungkan kabel.

Tantangan menyambungkan kabel menjadi salah satu ujian penting karena robot harus mengenali objek, mengatur posisi tangan, melakukan penyelarasan mekanis dan memberikan tenaga dengan tingkat kontrol yang tepat.

Lebih dari 40 persen nomor dalam kompetisi tersebut mengharuskan robot beroperasi secara sepenuhnya otonom.

Dari Tai Chi hingga Pekerjaan Pabrik

Menariknya, penyelenggara tidak hanya ingin memperlihatkan bahwa robot bisa melakukan gerakan seperti manusia.

Kompetisi ini juga dirancang untuk menguji apakah humanoid benar-benar mampu menghadapi kondisi yang tidak sempurna di dunia nyata.

Sebuah kabel bisa berada pada sudut yang salah. Barang dapat bergeser. Objek mungkin berada di luar jangkauan. Robot juga bisa melakukan kesalahan dalam sebuah gerakan.

Dalam kondisi seperti itu, robot harus mampu mengenali masalah, menyesuaikan gerakan dan memperbaiki kesalahan tanpa terus-menerus mendapatkan bantuan manusia.

CEO Lumos Robotics Yu Chao menilai nilai sebenarnya dari teknologi tersebut tidak terletak pada aksi spektakuler di arena.

"Baru ketika robot mampu bekerja dalam skenario akhir tersebut, teknologi ini benar-benar memiliki nilai. Sekadar berlari dan melompat tidak akan meningkatkan efisiensi," ujar Yu Chao dikutip dari CNA, Senin (24/8/2026).

Ketika Tradisi Bertemu Teknologi

World Humanoid Robot Games 2026 akhirnya menjadi lebih dari sekadar kompetisi robot.

Tai Chi, pitch-pot, tarik tambang hingga lari memperlihatkan bagaimana teknologi humanoid berusaha meniru kemampuan fisik manusia dalam berbagai bentuk.

Di sisi lain, tantangan industri menunjukkan tujuan yang lebih serius: menjadikan robot mampu melakukan pekerjaan yang selama ini membutuhkan tenaga dan keterampilan manusia.

Startup robotika Beijing, Galbot, bahkan menyiapkan pertandingan tenis humanoid secara otonom. Robot akan diuji untuk melacak bola, melakukan servis dan mengembalikan pukulan dalam pertandingan tunggal maupun ganda.

Chief Marketing Officer perusahaan robotika Zeroth, Hua Rong, menilai ujian sesungguhnya bagi robot bukan ketika mereka tampil di arena kompetisi.

"Persaingan sebenarnya adalah ketika produk sudah dijual, apakah robot tersebut benar-benar bisa menyelesaikan masalah pengguna," kata Hua Rong.

Dengan perpaduan Tai Chi, olahraga, kecerdasan buatan dan pekerjaan industri, China tampaknya ingin menunjukkan satu hal, yaitu robot humanoid tidak lagi hanya dipersiapkan untuk berjalan dan berbicara, tetapi perlahan diarahkan untuk melakukan semakin banyak aktivitas yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan manusia.

Editor: Muhammad Sukardi

Follow WhatsApp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow

Related News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut