Damai dengan Azerbaijan, Armenia Kini Sibuk Perang Melawan Rakyat Sendiri
YEREVAN, iNews.id - Pascakesepakatan damai dengan Azerbaijan dalam perang Nagorno-Karabakh, pemerintah Armenia tengah disibukkan meredam aksi rakyat yang mendesak Perdana Menteri Nikol Pashinyan mundur.
Langkah PM Pashinyan menandatangani kesepakatan damai dengan Azerbaijan yang dimediasi Rusia berdampak pada meningkatkanya eksklasi dalam negeri Armenia. Ribuan orang berdemonstrasi di pusat kota Yerevan mengecam langkah Pashinyan yang dinilai "bertindak lemah" dengan menyetujui kesepakatan dengan Azerbaijan.
Anggapan tersebut muncul setelah Presiden Azerbaijan, Ilham Aliyev, mengatakan Armenia tidak punya pilihan selain berdamai serta menganggap kesepakatan tersebut sebagai "tanda menyerah perang" dalam konflik Nagorno-Karabakh.
Geram dengan keputusan Pashinyan, demonstran melampiaskannya dengan mengepung dan melakukan perusakan gedung parlemen Armenia. Polisi yang disiagakan terpaksa melakukan tindakan represif dan menangkap puluhan pengunjuk rasa--pemerintah Armenia belum mencabut aturan darurat yang melarang kerumunan selama ketegangan dengan Azerbaijan berlangsung.
Perang dengan Azerbaijan 6 Pekan, 1.302 Tentara Separatis Armenia Tewas
Puluhan politisi oposisi pemerintah ditangkap
AFP melaporkan, Kamis (12/11/2020), demonstrasi di Yerevan semakin masif meski berhadapan dengan konsekuensi penangkapan serta tindak represif aparat. Setidaknya 3.000 demonstran turun ke jalan--yang digagas 17 partai politik Armenia.
Demonstran satu suara mengecam serta mendesak Pashinyan turun dari jabatannya.
"Nikol si pengkhianat. Nikol turun!," teriakan demonstran.
"Pashinyan telah menjual tanah air kami dan sekarang mencoba untuk tetap berkuasa," Naira Zoghrabyan, wakil dari Partai Armenia Sejahtera.
"Nikol, mundurlah dengan damai selagi masih memungkinkan," lanjutnya.
10 politisi oposisi yang dianggap sebagai penyokong aksi demo anti-Pashinyan telah ditangkap. Mereka dihadapkan pada hukuman penjara 10.
"Ini karena peran mereka dalam kekacuan massal dengan kekerasan ilegal," kata jaksa penuntut Armenia dalam sebuah pernyataan.
Perang Armenia-Azerbaijan telah tewaskan puluhan ribu orang
Armenia dan Azerbaijan telah berperang di wilayah konflik Nagorno-Karabakh sejak tahun 1990-an yang telah menewaskan lebih dari 30.000 orang.
Pertempuran terbaru yang berlangsung sejak 27 September telah menewaskan lebih dari 1.000 orang serta memaksa ratusan ribu orang mengungsi mencari perlindungan.
Selama enam pekan berperang, dua negara pecahan Uni Soviet tiga kali menggagalkan gencatan senjata yang sempat ditengahi Prancis, Rusia dan Amerika Serikat.
Mereka saling tuding sebagai perusak kesepakatan dengan melancarkan serangan ke sejumlah wilayah penting di Nagorno-Karabakh maupun wilayah negara masing-masing.
Nagorno-Karabakh yang terletak di Kaukasus diakui secara internasional sebagai wilayah Azerbaijan namun pemerintahannya dikendalikan oleh separatis Armenia.
Editor: Arif Budiwinarto