Damaikan 8 Perang, Trump: Seharusnya Saya yang Dapat Nobel Perdamaian
WASHINGTON, iNews.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menegaskan dirinya lebih layak menerima Hadiah Nobel Perdamaian 2026. Dia mengklaim telah mendamaikan delapan perang dan konflik sejak kembali menjabat sebagai presiden AS pada tahun lalu.
Trump bahkan menyebut dirinya pantas mendapatkan Nobel Perdamaian hanya dengan menyelesaikan satu dari delapan konflik tersebut. Dia pun melontarkan kritik keras terhadap Komite Nobel Norwegia karena memberikan penghargaan tahun ini kepada Navi Pillay, perempuan asal Afrika Selatan (Afsel) yang dikenal atas kiprahnya dalam penegakan hukum internasional.
"Untuk satu saja dari delapan perang, Anda sudah bisa mendapat Hadiah Nobel. Saya menyelesaikan delapan. Belum pernah ada presiden yang melakukan hal seperti itu," ujar Trump saat menghadiri kampanye Partai Republik di Syracuse, New York.
Trump secara blak-blakan mengaku belum pernah mendengar nama Pillay sebelum perempuan tersebut diumumkan sebagai penerima Nobel Perdamaian 2026. Dia bahkan menyebut Pillay sebagai sosok misterius yang tidak dikenal banyak orang.
"Hari ini mereka memberikan Hadiah Nobel Perdamaian kepada seseorang yang belum pernah saya dengar namanya. Seseorang yang tidak dikenal siapa pun. Dia adalah sosok misterius," katanya.
"Tapi, selamat untuknya," ujar Trump.
Trump kemudian menyatakan bahwa AS, yang diwakilinya sebagai presiden, seharusnya menerima penghargaan tersebut. Dia juga memperingatkan Norwegia akan menanggung konsekuensi reputasi akibat keputusan Komite Nobel.
"Amerika Serikat, yang diwakili oleh saya sebagai presiden, seharusnya menerima Hadiah Nobel Perdamaian, namun tidak mendapatkannya. Dan ini merupakan kesalahan permanen bagi negara Norwegia," ucapnya.
Trump menuding reputasi Nobel Perdamaian telah tercoreng selamanya oleh segelintir orang yang disebutnya menganut ideologi radikal, anti-demokrasi, dan menjadi musuh peradaban.
"Kita tidak akan melupakan Norwegia," katanya, seraya menuduh negara tersebut telah memperlakukan AS secara tidak adil.
Dalam unggahan di media sosial Truth Social, Trump kembali menyerang Pillay dengan menyinggung sikapnya terhadap Israel. Pillay sebelumnya memimpin komisi penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan praktik genosida di Jalur Gaza.
"Saya tidak tahu apa pun tentang perempuan ini, begitu pula orang lain! Faktanya, sepengetahuan saya, tidak ada seorang pun yang pernah mendengar namanya, kecuali fakta bahwa dia, sudah sangat jelas, membenci Israel," tulis Trump.
Trump juga mengulangi kritiknya terhadap penghargaan tersebut melalui unggahan lain.
"Hadiah Nobel 'Perdamaian' telah dicoreng reputasinya selamanya oleh segelintir penganut ideologi radikal yang anti-demokrasi dan musuh peradaban!" tulisnya.
Rekam Jejak Penerima Nobel Perdamaian 2026
Di balik kritik Trump, Navi Pillay memiliki rekam jejak panjang dalam bidang hukum internasional dan hak asasi manusia. Dia pernah menjabat sebagai hakim sekaligus presiden Pengadilan Kriminal Internasional untuk Rwanda, hakim di Pengadilan Kriminal Internasional (ICC), serta Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia pada 2008-2014.
Pillay juga memimpin tim penyelidikan PBB mengenai Wilayah Palestina yang Diduduki pada 2021-2025. Komisi tersebut menyimpulkan bahwa Israel telah melakukan praktik genosida di Jalur Gaza.
Komite Nobel Norwegia menjelaskan bahwa Pillay memainkan peran sentral dalam upaya membawa pelaku kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan genosida ke pengadilan. Dia juga dinilai berkontribusi memperluas dampak hukum internasional.
Editor: Anton Suhartono