Diam-Diam, Trump dan Netanyahu Bahas Rencana Akhiri Perang di Gaza dalam 2 Minggu
TEL AVIV, iNews.id - Israel dan Amerika Serikat (AS) dilaporkan sepakat untuk mengakhiri perang di Jalur Gaza dalam 2 pekan. Hal itu dibahas dalam pembicaraan telepon antara Presiden Donald Trump dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Senin lalu, sebagaimana dilaporkan surat kabar Israel, Hayom.
Menurut laporan itu, Israel akan mengakhiri perang di Gaza sebagai alat tawar kepada negara-negara Arab untuk menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Perjanjian Abraham. Selain itu, Israel akan diminta untuk berkomitmen mendukung berdirinya negara Palestina di masa depan.
Ikut bergabung dalam percakapan telepon kedua pemimpin tersebut, Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Urusan Strategis AS Ron Dermer.
Mengutip sumber pejabat, Hayom melaporkan, kedua pemimpin sepakat untuk mengakhiri perang di Gaza dalam waktu 2 pekan. Israel harus menghentikan serangan militer di Gaza serta Hamas membebaskan 50 sandera yang tersisa, 20 di antaranya diyakini masih hidup.
Setelah itu Hamas akan diasingkan dari Gaza, kemudian empat negara Arab, termasuk Uni Emirat Arab (UEA) dan Mesir, ditugaskan untuk bersama-sama memerintah Gaza sebagai gantinya. Laporan tersebut tidak menyebutkan dua negara Arab lainnya yang diminta untuk memerintah di Gaza sementara.
Sebagai bagian dari pembangunan kembali Jalur Gaza, setiap warganya yang ingin keluar akan diterima oleh beberapa negara, namun juga tidak disebutkan nama maupun jumlahnya.
Rencana yang dibahas Trump dan Netanyahu itu sebenarnya bukan hal baru dan telah ditolak oleh Pemerintah Otoritas Palestina, negara-negara Arab, dan Hamas. Negara-negara Arab berulang kali menegaskan tidak akan ambil bagian dalam rehabilitasi pascaperang Gaza tanpa keikutsertaan Pemerintah Otoritas Palestina.
Selain itu, usulan tersebut akan mendapat ganjalan karena Hamas menolak keluar dari Gaza. Hamas masih memiliki basis dukungan yang besar di Jalur Gaza, ketimbang faksi-faksi politik yang mengisi Pemerintah Otoritas Palestina.
Sebagai bagian dari rencana tersebut, Trump juga mengatakan kepada Netanyahu agar Israel mau mendukung solusi dua negara di masa depan dengan syarat reformasi yang dilakukan oleh Pemerintah Otoritas Palestina. Sebagai imbalannya, AS juga akan mengakui kedaulatan Israel terhadap beberapa wilayah Tepi Barat.
Bagian ini juga akan memicu perdebatan sengit karena jelas-jelas melanggar hukum internasional. Ini merupakan pelegalan AS atas perampasan tanah Palestina oleh Israel.
Selanjutnya, dengan berakhirnya perang di Gaza serta komitmen Israel terhadap solusi dua negara, Arab Saudi maupun Suriah diyakini akan menormalisasi hubungan dengan Israel di bawah Perjanjian Abraham. Setelah itu negara-negara Arab dan Muslim lainnya akan menyusul.
Editor: Anton Suhartono