Diaspora Indonesia di Austin AS Gelar Hajatan Rakyat dan Doa Bersama Menangkan Ganjar-Mahfud
JAKARTA, iNews.id - Warung D3mokrasi kembali hadir di Austin, Amerika Serikat (AS), kali ini di kota kecil, Marble Falls, Sabtu (27/1/2024). Hajatan Rakyat digelar di kediaman salah satu pendukung paslon nomor urut 3, Ganjar-Mahfud, dimeriahkan dengan warung sungguhan oleh dua UMKM asal Houston yang menjajakan makanan Nusantara.
Topik hangat seputar dukungan presiden dalam kampanye terhadap salah satu paslon dibahas dalam diskusi D3mokrasi kali ini. Para Austinites, sebutan bagi diaspora Indonesia di Austin, menilai sah-sah saja presiden mendukung salah satu paslon karena tidak dilarang oleh undang-undang.
Meski demikian, demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, sebaiknya presiden bersama aparatur negara lainnya bersikap netral, sehingga pemilu bisa berlangsung secara tertib, damai, dan lancar.
Emil Harsa, tokoh senior warga Indonesia di AS yang juga Bendahara TPLN Ganjar-Mahfud, mengatakan secara etika sebaiknya presiden tidak melalukan hal ini karena harus memberi contoh kenetralan pemerintah. Presiden seharusnya mendukung siapa saja yang menjadi pemenang pemilu untuk melanjutkan pemerintahan selanjutnya.
Pecah! Relawan Ganjar-Mahfud Amerika Gelar Warung D3mokrasi Serentak di 5 Kota
Aktivitas presiden, kata dia, akan memengaruhi rakyat serta apartur pemerintahan, baik secara langsung atau tidak.
Beberapa topik juga diutarakan dalam diskusi kali ini, salah satu yang menarik adalah anggaran 21 program Ganjar-Mahfud senilai Rp500 triliun dibandingan dengan satu program paslon nomor urut 2 Prabowo-Gibran yang bernilai Rp400 triliun untuk makan siang dan susu gratis bagi anak sekolah.
Warung D3mokrasi Gandeng Klub Harley-Davidson dan Ikatan Motor Besar Indonesia Dukung Ganjar-Mahfud
“Sepertinya program ini belum sepenuhnya dipikirkan secara matang oleh kubu 02, dari mana makanannya kalau kita masih mengimpor bahan dasar makanan? Siapa yang masak? Darimana juga susunya? Hal-hal ini membuat kita berpikir-pikir apakah ada potensi KKN dengan program tersebut,” ujar Emil, dalam keterangannya.
“Program Prabowo-Gibran seperti memberi ikan untuk sebagian rakyat, sedangkan program-program Ganjar-Mahfud itu seperti memberi kail, di mana kail itu akan lebih menyejahterakan rakyat, membuat rakyat dapat independen untuk menaikkan dan menunjang ekonomi keluarga. Siklus ini akan berulang turun-temurun sehingga kita bisa menjadi bangsa yang lebih sejahtera," katanya, lagi.
Menurut dia, memberikan 'ikan' hanya menyelesaikan masalah sementara dan membuat rakyat bergantung kepada pemerintah. Selain itu memberika 'ikan' akan membuat rakyat menjadi terikat dan lebih mudah dikontrol dan dibungkam suara dan kritiknya.
"Program ini tidak pantas untuk negara demokrasi kita,” ujarnya.
Acara dilanjutkan dengan menulis aspirasi pendukung Ganjar-Mahfud tentang apa yang akan dititipkan di pundak pemerintahan Ganjar-Mahfud jika menang. Sebagian besar isinya mendoakan agar Ganjar-Mahfud tetap semangat dan menang dalam pilpres mendatang.
“Ada beberapa aspirasi juga yang patut kita sampaikan seperti berantas narkoba, kurangi/hilangkan polusi di Indonesia, ingat wong cilik/rakyat, dan selalu konsisten dalam pendirian. Yang lainnya sudah sering kita dengar mengenai jaga demokrasi, Pancasila, UUD 45, konstitusi, tegakkan HAM, dan sebagainya," kata Emil, yang juga membagikan konten kreatif atas dukungan mereka di Instagram @usaforganjarpranowo.
Kegiatan ditutup dengan doa bersama untuk NKRI dan kemenangan Ganjar-Mahfud. Austinites berharap pemilu berjalan lancar, damai dan tertib, sehingga bangsa tidak terpecah belah siapa pun pemenangnya.
Hajatan Rakyat yang digelar di Austin oleh Warung D3mokrasi yang tergabung bersama USA for Ganjar-Mahfud dilanjutkan di berbagai kota di AS, di antaranya Oregon, Atlanta, Chicago, dan New Hampshire.
Sri Fitz, juru bicara TPLN AS yang juga ketua Direktorat Relawan, mengatakan kegiatan para relawan pada akhir pekan bulan Januari bertujuan untuk menyambut pesta demokrasi yang akan dimulai lebih awal di AS, yakni pada 4 Februari.
Editor: Anton Suhartono